Monthly Archives: January 2012

Don’t Say Goodbye 3

Author : Arcclay

~Yuli Pov~

“Kok kamu senyum-senyum mulu dari tadi?” tanya mbak Yeyen saat memergokiku sedang senyum-senyum gaje.

“Lagi senang mbak,” jawabku sambil mendekap nampan di depan dadaku.

“Senang kenapa?” tanya mbak Yeyen lagi.

“Ya senang karena sudah dapat kerjaan tetap mbak hehehe…” aku menundukkan kepalaku dan melihat ujung kakiku yang terbungkus sepatu pantofel tanpa hak (??).

“Hehehehe…lucu ya kamu itu. Jadi pembantu aja suka,” kata mbak Yeyen.

“Pembantu?” tanyaku bingung.

“Iya. Kerja kayak gini kan sama aja kerja kayak pembantu. Tapi pembantu elit,” jawab mbak Yeyen sambil menuang air panas ke dalam tujuh gelas kosong.

“Bener tuh hehehe…” sahut pak Kosim.

Sedangkan aku hanya mangguk-mangguk mengerti.

“Ini diantar ke ruang tiga ya,” suruh mbak Yeyen sambil menata gelas-gelas yang berisi kopi itu ke dalam nampan yang aku bawa.

Aku langsung berjalan menuju ruang tiga yang berseberangan dengan tempat para cleaning Continue reading


Love Storm 11

Author : Arcclay

~Author Pov~
Untuk beberapa saat Rey dan Kevin hanya saling berpandang-pandangan.

“Cepetan keluar dong…bapak sudah kebelet kencing nih,” kata pak Nyoman lagi.

Kevin yang panic buru-buru berdiri. Dia sedikit meringis saat junior Rey terlepas dari hole nya.

“Mau kemana?” tanya Rey saat melihat Kevin mulai memakai celananya.
“Mau keluar lah,” jawab Kevin.
“Jangan dulu,” kata Rey sambil mempelorotkan celana Kevin yang baru di pakai.
“Hah?? Tapi kan…” kata-kata Kevin terputus saat Rey mulai melepas kaosnya, “kok…aaaaaahhhhhh… REY!!!” teriak Kevin saat Rey mengguyur tubuh telanjangnya dengan air.
“Masih lama yaaa????” tanya pak Nyoman dari luar kamar mandi.
“Masih pak,” jawab Rey, sedangkan Kevin melotot marah ke Rey, “kamu harus membersihkan tubuhmu dulu sebelum keluar. Nggak mungkin kan kamu keluar dalam keadaan seperti ini?!” kata Rey sambil memberikan gayung air ke Kevin.
“Tapi pak Nyoman…”
“Sudahlah jangan banyak omong! Cepat bersihkan tubuhmu!” potong Rey sambil mematikan radio tua yang daritadi terus melantunkan lagu-lagu lawas. Continue reading


Flower Love 3

AUTHOR:;: Cherry Chibi>w<

“YAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAY!!!”

DEG

“A-apa tadi!?” tanyaku ke Rinka. Aku kaget gara-gara sempat ngelamun tadi.

“Au tuh. Dewi,” Rinka menunjuk Dewi yang berlari di depan kami dengan tatapan matanya. Terlihat cewek itu menarik Hana ke sekolah dengan penuh semangat dan tawa yang keras. Dan dapat kudengar teriakan kekesalan Ozha pada Dewi. Entah apa yang terjadi. Hahaha, Dewi ngusilin Ozha lagi ya. Dasar anak itu…

“Lari, yuk!” ajak Rinka. Aku menoleh menatapnya dan segera mengangguk.

“Let’s go!!” Rinka berlari. Tanganku yang masih digenggamnya akhirnya membuat tubuhku ikut tertarik. Aku dan Rinka berlari ke sekolah dengan bergandengan tangan, melewati Ozha dkk dengan berseru, “Duluan~~!!” Continue reading


Love Sweet and Sour 20

Genre: Romance and a little bit Humor

Rated: T? O.o

By: Ruechi (Pink)

-Original Story not Fanfict-

(this is a fiksi story not a real story)

~~

Chapter 20

Rifky POV

Dua hari sejak insiden yang menimpa dirumahku(?). Kini aku, Mira, Ryo, Dendi dan Agus sudah mulai dekat layaknya teman, kecuali Ryo dan Agus dengan Dendi tentunya. Kalau kami berpapasan selalu saja Dendi memasang wajah kesal tiap kali melihat Ryo yang dingin seperti biasanya ataupun Agus dengan tingkah lakunya yang heboh. Continue reading


Love Storm 10

Author : Arcclay

~Author Pov~
“Uuuuuggghhhh….” erang Herlin sambil membuka kedua matanya perlahan.

Untuk beberapa saat Herlin hanya tergeletak pasrah sambil menatap langit-langit kamarnya yang tinggi. Sendirian. Itulah yang ada di benak Herlin setiap dia membuka ke dua matanya.

“Jam 8,” desis Herlin saat melihat jam dinding yang ada di kamarnya.

Herlin pun langsung menarik selimutnya yang sudah berantakan sampai menutupi tubuhnya. Sewaktu Herlin akan melanjutkan lagi mimpinya, tiba-tiba telinganya menangkap suara-suara di rumahnya yang besar itu. Herlin langsung menajamkan telinganya untuk menangkap suara-suara itu. Tapi biarpun dia sudah berusaha mendengar suara itu, Herlin tetap nggak tau itu suara apa. Tiba-tiba Herlin bergidik ngeri dengan pemikirannya yang tiba-tiba melintas di otaknya.

“Maling,” desisnya dengan mata melebar.

Perlahan-lahan Herlin bangkit dari tempat tidurnya. Tangannya langsung menyambar sapu yang khusus untuk membersihkan lantai kamarnya. Dengan hati deg-deg’an, Herlin mulai membuka pintu kamarnya. Sepi. Ruang tengah atau ruang keluarga yang langsung berhadapan dengan kamarnya itu kosong. Tapi suara-suara aneh itu masih terdengar. Suara aneh itu Continue reading