Author : Arcclay
~Author Pov~
“Uuuuuggghhhh….” erang Herlin sambil membuka kedua matanya perlahan.
Untuk beberapa saat Herlin hanya tergeletak pasrah sambil menatap langit-langit kamarnya yang tinggi. Sendirian. Itulah yang ada di benak Herlin setiap dia membuka ke dua matanya.
“Jam 8,” desis Herlin saat melihat jam dinding yang ada di kamarnya.
Herlin pun langsung menarik selimutnya yang sudah berantakan sampai menutupi tubuhnya. Sewaktu Herlin akan melanjutkan lagi mimpinya, tiba-tiba telinganya menangkap suara-suara di rumahnya yang besar itu. Herlin langsung menajamkan telinganya untuk menangkap suara-suara itu. Tapi biarpun dia sudah berusaha mendengar suara itu, Herlin tetap nggak tau itu suara apa. Tiba-tiba Herlin bergidik ngeri dengan pemikirannya yang tiba-tiba melintas di otaknya.
“Maling,” desisnya dengan mata melebar.
Perlahan-lahan Herlin bangkit dari tempat tidurnya. Tangannya langsung menyambar sapu yang khusus untuk membersihkan lantai kamarnya. Dengan hati deg-deg’an, Herlin mulai membuka pintu kamarnya. Sepi. Ruang tengah atau ruang keluarga yang langsung berhadapan dengan kamarnya itu kosong. Tapi suara-suara aneh itu masih terdengar. Suara aneh itu membawa langkah Herlin menuju dapur. Perlahan-lahan tapi pasti, Herlin mulai memberanikan diri mengintip dapurnya. Tangannya tampak gemetaran sambil memegang erat sapunya.
“HIIIAAAAAAAAAATTTTTTTT…..” teriak Herlin saat berhambur masuk ke dalam dapurnya sambil mengangkat sapu nya tinggi-tinggi.
Tapi Herlin langsung terpaku saat melihat siapa yang tengah sibuk di dapurnya itu.
“Rey?!” tanya Herlin saat melihat Rey sedang menatapnya dengan kening yang berkerut, “ngapain kamu??” tanya Herlin sambil menurunkan sapu nya.
“Aku yang seharusnya tanya. Ngapain kamu teriak-teriak sambil bawa sapu gitu?” tanya Rey balik, “bikin kaget aja.”
“Nggak…kok kamu…” kata-kata Herlin terputus saat dia menyadari sesuatu, “ah benar. Kamu kan kemarin nginep sini.”
Rey yang daritadi melihat tingkah Herlin kini kembali sibuk dengan sesuatu yang ada di tangannya. Untuk beberapa saat Herlin hanya mematung di tempatnya sambil mengamati Rey. Herlin tersenyum tipis saat menyadari bahwa pagi ini dia nggak sendirian. Ada seseorang di rumahnya dan mengajaknya ngobrol saat dia baru membuka matanya di pagi hari. Perlahan-lahan Herlin mendekat kearah Rey dan duduk di kusi yang ada di samping Rey. Sapu pamungkas yang tadi dia bawa, kini sudah bersandar rapi pada dinding dapur.
“Kamu buat apa?” tanya Herlin.
“Sarapan,” jawab Rey sambil menaburkan irisan bawang merah yang di goreng ke bubur yang baru saja dia buat.
“Itu buatku?” tanya Herlin sambil menatap bubur ayam yang ada di atas meja.
“Ya,” jawab Rey sambil menyodorkan bubur itu kearah Herlin.
“Ini kemana tomatnya?” tanya Herlin saat menatap hiasan mawar yang terbuat dari kulit tomat di buburnya itu.
“Aku buat jus. Tuh jus’nya ada di lemari es,” jawab Rey sambil mencuci tangannya di wastafel, “kok nggak di makan?” tanya Rey saat melihat Herlin hanya menatap buburnya itu.
“Ehm…aku sudah lama nggak makan masakan rumah,” kata Herlin sambil menyondok sedikit bubur itu lalu memakannya, “lembut, gurih dan enak.”
Rey tersenyum mendengar pujian Herlin.
“Ternyata kamu masih suka makan bubur ya.”
“Iya. Lembut sih,” sahut Herlin sambil menatap Rey yang sedang duduk di depan nya, “ehm…gimana tidurmu? Nyenyak?”
“Harusnya aku yang tanya ke kamu,” kata Rey sambil bertopang dagu, “setelah menangis semalam, apa tidurmu nyenyak?”
Herlin terkekeh pelan.
“Tidurku selalu nyenyak,” jawab Herlin.
“Aku juga.”
“Di kamar tamu nggak ada nyamuk atau kecoa?”
“Nggak. Kenapa?”
“Hem…nggak sih. Soalnya kamar itu kan nggak ada yang nempatin, jadi jarang di bersihin. Aku kira sudah jadi sarang nyamuk dan kecoa.”
“Nggak ada kok. Cuma sedikit pengap.”
“Ehm…”
“…”
“…”
“…”
“Gimana kalau kamu tinggal di sini aja? Daripada nge-kost sendirian, mending nemenin aku,” kata Herlin yang membuat Rey langsung mengerutkan keningnya.
“Nggak mau. Lagian aku nggak sendirian kok di sana.”
“Kenapa nggak mau?”
“Aku nggak mau jadi pembantu mu,” sindir Rey yang membuat Herlin tergelak.
“Kenapa sih pikiranmu itu selalu negative ke aku?!” tanya Herlin.
“Karena aku tau siapa kamu,” jawab Rey santai.
“Ehm…padahal kalau kamu di sini, kamu punya peluang untuk merebut foto itu dari ku.”
“Aku bisa mendapatkan foto itu tanpa harus tinggal di sini,” sahut Rey.
“Pe De nya,” desis Herlin sambil menahan tawa, “eh mau kemana?” tanya Herlin saat melihat Rey beranjak dari duduknya.
“Pulang.”
“Mau aku anter? Kost mu di mana?” tanya Herlin.
“Aku bisa pulang sendiri,” jawab Rey sambil terus melangkahkan kakinya meninggalkan Herlin.
Herlin yang melihat penolakan Rey cuma mendengus kesal. Tapi sedetik kemudian dia tersenyum.
“Padahal aku sudah berbaik hati,” desis Herlin sebelum menghabiskan buburnya.
Setelah buburnya itu habis, Herlin langsung meminum air mineral yang sudah tersedia di atas meja. Sepertinya dia lupa kalau ada jus tomat di lemari es nya. Akhirnya setelah membereskan meja makannya, Herlin langsung berjalan menuju kamarnya. Di bukanya lemari bajunya dan diambil’nya sebuah album dari sana. Album itu di bawanya ke atas tempat tidurnya. Di tempat tidur itulah Herlin mulai membuka album itu dan mengamati foto yang ada di dalamnya. Nggak jarang foto yang ada di sana bisa membuat Herlin tersenyum bahkan tertawa. Foto itu di ambil saat dia masih kecil. Di sana terlihat gadis kecil yang cantik sedang berfoto dengan ke dua orang tuanya. Mamanya yang terlihat anggun dan papanya yang terlihat sabar. Gadis kecil itu tampak bahagia berada di antara ke dua orang tuanya. Untuk beberapa saat Herlin terus menatap foto itu. Di belainya lembut foto lama itu. Tiba-tiba Herlin menghela nafas panjang.
“Sayang…saat-saat itu sudah berlalu,” desis Herlin sambil membalik album itu untuk melihat foto berikutnya.
Herlin menyeringai saat melihat foto itu.
“Untung aku masih menyimpan foto-fotomu. Jadi kita bisa bermain-main deh Rey,” gumam Herlin sambil tersenyum geli.
Di saat Herlin sedang asyik dengan album fotonya. Rey sudah sampai di kostnya. Rey baru tau kalau rumah Herlin ada di kompleks perumahan yang sama dengan tempat kost Rey. Bedanya cuma di bloknya aja. Kalau rumah Herlin di blok H, tempat kost Rey ada di blok B.
Rey langsung masuk ke dalam kost begitu membuka pintu pagar.
“Dari mana dik?” tanya Odon si mahasiswa abadi.
Si gembul itu terlihat berkeringat karena habis melakukan olah raga pagi.
“Rumah teman,” jawab Rey, “mari mas,” Rey permisi sambil tersenyum sekilas.
Beruntung pintu pagar sudah di buka, jadi Rey bisa masuk ke dalam kostnya dengan mudah. Tadinya Rey sempat bingung kalau pintu pagar masih di kunci, itu artinya dia akan kesulitan untuk masuk ke dalam kost. Rey lupa kalau kunci pagar, kunci kamar dan kunci motor semua ada di Kevin dan belum dia minta kembali.
Kini Rey sudah ada di depan kamarnya. Tapi dia hanya berdiri saja di depan kamarnya yang tertutup. Tapi sedetik kemudian Rey melangkahkan kakinya menuju kamar Kevin. Di ketuknya perlahan pintu kamar Kevin yang juga tertutup. Tapi sampai beberapa kali Rey mengetuknya, pintu itu tak kunjung terbuka juga. Akhirnya Rey kembali berjalan ke depan kamarnya. Mengetuknya…tapi hasilnya juga sama. Nggak ada yang membukakan pintu kamarnya. Akhirnya Rey mencoba membuka pintu kamarnya itu dan…pintunya terbuka.
“Di sini ternyata,” desis Rey saat melihat Kevin tertidur pulas di atas tempat tidurnya.
Perlahan-lahan Rey mulai berjalan memasuki kamarnya. Tapi langkahnya terhenti saat menyadari dia menginjak sesuatu. Diangkatnya kakinya kanannya dan terlihatlah sebuah baterai hp yang tergeletak pasrah di atas lantai. Mata Rey langsung menyusuri lantai kamarnya dan terlihatlah casing dan keypad hp milik Kevin tercecer di lantai kamarnya. Rey yang melihat itu akhirnya memunguti benda-benda itu lalu mulai menyusunnya kembali. Senyum Rey terukir saat melihat hp itu menyala saat dia mengaktifkannya. Setelah memastikan bahwa hp yang ada di tangannya itu nggak rusak, Rey meletakkan hp itu di atas mejanya dan meletakkan tas selempangnya ke atas kursi. Kemudian Rey mulai melangkahkan kakinya mendekati Kevin yang masih terlelap. Dia duduk di sisi tempat tidurnya dan mengamati Kevin yang tertidur tengkurap. Perlahan-lahan di sibaknya rambut yang menutupi sebagian wajah Kevin. Untuk beberapa saat Rey hanya menatap wajah polos Kevin yang terlelap.
“Ke…vin,” bisik Rey di telinga kanan Kevin.
Nggak ada reaksi. Kevin masih menikamati mimpinya. Rey tersenyum sekilas sebelum bibirnya mendarat di pipi kanan Kevin. Lagi-lagi Kevin masih tak bergeming dari tidurnya. Rey kembali tersenyum. Tapi senyumnya langsung sirna saat tanpa sengaja dia melihat hp Kevin yang masih tergeletak di atas mejanya. Rey mulai menerka-nerka apa yang menyebabkan kekasihnya sampai melempar hp nya. Rey kembali menatap Kevin yang masih terlelap. Sepertinya dia sudah tau apa penyebab Kevin melempar hpnya.
“Uuuuuggghhh…” erang Kevin pelan.
Kevin mulai mengeliatkan tubuhnya dengan mata masih terpejam. Perlahan-lahan mata itu pun mulai terbuka. Kevin langsung terdiam saat menyadari dirinya nggak sendirian di kamar itu. Dia melihat Rey sedang menatapnya sambil tersenyum.
“Bangun juga,” desis Rey sambil membelai lembut rambutnya.
Tapi Kevin langsung menepis tangan itu.
“Dari mana? Kenapa baru pulang?” tanya Kevin ketus.
Perlahan-lahan Kevin mulai bangkit dari tidurnya sambil menatap Rey tajam.
“Dari rumah temen,” jawab Rey ragu.
“Temen? Siapa temenmu? Herlin??” tanya Kevin sambil mendengus kesal.
Rey nggak menjawab. Dia lebih memilih diam daripada salah menjawab.
“Kamu lapar? Mau aku masakin sesuatu?” tanya Rey mencoba mengalihkan percakapan.
“Ngapain aja kalian semalam?” tanya Kevin tanpa memperdulikan pertanyaan Rey.
“Kami nggak ngapa-ngapain,” jawab Rey sambil beranjak dari duduknya.
Rey membuka tas nya dan mengeluarkan jubah putihnya. Di gantungnya jubah itu di belakang pintu kamarnya.
“Mau aku masakin ca kangkung?” tanya Rey masih berusaha mengalihkan percakapan.
“Kenapa tadi malam hp mu nggak aktif?”
Rey langsung terdiam.
“Minumnya mau di buatin apa? Sirup? Atau apa?”
“Aku telfon dan sms tapi nggak pernah bisa terkirim di hp mu.”
“Bateraiku habis.”
“Bohong.”
Rey langsung menghela nafas panjang.
“Aku nggak ngapa-ngapain sama dia. Jadi jangan khawatir,” kata Rey sebelum beranjak pergi meninggalkan Kevin yang makin meradang.
Rey lansung menuju dapur dan mulai memasak sesuatu untuk dirinya dan untuk kekasihnya. Tadi di rumah Herlin, dia hanya menumpang mandi saja.
Tiba-tiba Rey menghentikan irisan pada cabenya saat melihat jari telunjuknya mengeluarkan darah karena teriris pisau. Untuk beberapa saat Rey hanya melihat darah yang terus keluar dari jarinya itu.
“Bego,” desis Rey sebelum mengulum jarinya.
Saat ini Rey sangat membenci kepengecutan yang mulai tertanam di dirinya. Alasan dia mematikan hp nya setelah mengirim sms ke Kevin kemarin adalah karena Rey masih belum siap menghadapi kecemburuan dari kekasihnya itu. Ternyata Rey yang cuek, yang nggak perduli dengan lingkungan sekitarnya, kini harus takut dengan kecembuaruan dari sang kekasih. Kecemburuan dari Kevin sekarang menjadi momok baginya.
~Kevin Pov~
Seharian ini aku terus nyuekin Rey. Dan seharian ini pula Rey terus menarik perhatianku dengan berbagai cara. Mulai dari mengajak ngobrol sampai mulai menarik perhatianku dengan sesuatu yang berbau sex. Hohoho…nggak semudah itu Rey. Nggak selamanya masalah akan selesai setelah bergumul di atas tempat tidur. Sebelum kamu menjelaskan ada hubungan apa antara kamu dan Herlin, jangan harap aku akan mengajakmu bicara. Tapi…sebenarnya ada apa di antara mereka berdua ya?? Seolah-olah mereka sudah kenal lama. Dan kenapa Rey yang nggak perduli dengan lingkungan sekitar, langsung perduli dengan Herlin??
Untuk beberpa saat aku terus memikirkan itu. Tapi setelah beberapa menit aku menyerah dengan segala jawaban yang aku dapatkan. Jawaban yang hanya bisa membuatku tambah emosi.
Aku melirik hp yang tergolek tenang di samping bantalku. Sedetik kemudian aku sudah mengambil hp itu dan mencari-cari nomor hp seseorang dalam phonebook dan langsung menghubunginya.
“Aku ganggu nggak nih?” tanyaku saat telfonku tersambung.
“Nggak kok. Ada apa Vin? Kengen ya??” tanya Andre yang langsung membuatku terkekeh.
“Iyaaaa….aku kangen banget sama kamu.”
“Hehehe…kirain udah lupa sama aku.”
“Nggak lah.”
“Gimana kabarmu di sana? Baik?” tanya Andre.
“Iya baik kok.”
“Oh ya, gimana Rey? Baik juga?”
“Baik. Duh Dre nggak usah tanya-tanya lah. Biasanya juga kamu sms, kok ya masih tanya-tanya.”
“Ya nggak apa-apa kan. Biar kesannya tuh lama nggak pernah kasih kabar.”
“Halah…” dengusku sambil menahan tawa.
“Eh liburan semester ini kalian balik sini nggak??”
Aku terdiam.
“Hallo??”
“Hem..nggak tau, belum ada rencana.”
“Oh gitu. Padahal aku pengen kalian balik. Nemenin aku di sini. Duh aku tuh kesepian tau nggak kalau nggak ada kalian.”
“Emangnya kamu nggak punya temen di kampus?”
“Banyak. Tapi ya gitu deh. Males…”
“Hehehe…sabar dong. Pasti ada kok temen yang nggak lihat kamu dari luarnya doang.”
“Hem..iya sih,” desis Andre.
“Oh ya Dre. Aku mau tanya nih.”
“Tanya apa?”
“Kamu kenal sama eng…cewek yang namanya Herlin?” tanyaku ragu-ragu.
“Herlin??”
“Iya.”
“Ehm…nggak kenal tuh. Emang kenapa?”
“Nggak apa-apa. Cuma tanya aja. Ya siapa tau aja kamu kenal.”
Andre nggak tau. Jadi siapa sebenarnya Herlin?? Seseorang dari kehidupan Rey di masa lalu?? SMP? SD? TK? Ba…li…ta?? Kok balita sih?? Oke yang itu terlalu dipaksakan, tapi…ehm…mungkin masih perlu dipertimbangkan. Ya siapa tau aja mereka sudah di jodohkan sejak masih kecil. Jodoh?? Apa aku bukan jodohnya Rey?! Hem…apa sih yang aku pikirin?! Jelaslah aku bukan jodohnya Rey. kami bisa bersama itupun mungkin karena kamilah yang memaksa. Nggak ada ceritanya cowok berjodoh dengan cowok.
“Oh ya Vin. Udah dulu ya. aku mau mandi nih. Keburu malam.”
“Hah?? Oh…oh iya-iya, buruan mandi sana! Jangan sampai sakit lagi.”
“Sip deh hehehe…salam ya buat Rey.”
“Oke…salam juga buat Nana.”
Setelah mematikan hp ku. Aku buru-buru beranjak keluar dari kamar menuju kamar mandi. Biasa…buang air kecil. Setelah sampai di depan kamar mandi, aku sempat terdiam sebentar karena kamar mandi itu tertutup.
“Ada orangnya nggak?” tanyaku sambil mengetuk pintu kamar mandi itu perlahan.
“…”
“Aku mau buang air kecil. Aku buka ya…” kataku sambil mulai membuka pintu kamar mandi yang aku yakini kosong.
“Vin.”
“WAAAAAAAAAAAAAA….!!” teriakku kaget saat melihat sosok Rey ada di kamar mandi itu, ”REY!! JANGAN BIKIN AKU KAGET DONG!!”
Aku langsung mendengus kesal dan beranjak pergi. Tapi baru selangkah, tiba-tiba Rey menarik lenganku sampai aku masuk ke dalam kamar mandi. Mataku langsung melotot saat melihat Rey mengunci pintu kamar mandi itu dari dalam.
“Apa-apaan sih?!” aku berusaha melepaskan tangan Rey dari lenganku.
“Vin!!” tiba-tiba Rey mencengkeram ke dua bahuku dengan tangannya.
Untuk beberapa saat aku dan Rey cuma terdiam. Kami saling menatap dalam diam. Aku baru tau kalau Rey baru selesai mandi dari rambutnya yang basah, tubuhnya yang harum dan setengah telanjang itu. Dia hanya melingkarkan handuk di pinggangnya untuk menutupi bagian bawahnya. Dan saat itu juga aku terpana dengan keindahan yang ada pada dirinya. Oke…mungkin ini bukan yang pertama kalinya, tapi tetap saja aku selalu terpana di buatnya. Terlebih lagi aku paling suka melihat Rey setelah selesai mandi. Rey terlihat sangat fresh dan ehm…menggairahkan tentunya. Aduh apa sih yang aku pikirin?! Udah tau aku masih marah sama dia, kok sempat-sempatnya aku berpikiran yang aneh-aneh.
“Buka pintunya Rey!” kataku akhirnya.
“Nggak mau.”
“Aku mau keluar.”
“Kalau kamu keluar, kamu akan nyuekin aku lagi.”
“Ini kamar mandi Rey. Gimana kalau ada yang mau masuk ke sini?!”
“Kamar mandinya ada dua. Masih ada kamar mandi di dekat dapur.”
Aku mengehela nafas sejenak. Lalu aku kembali teringat kenapa aku ke sini. Aku langsung mendorong Rey dan langsung menuju closet. Kubuka resletingku sebelum buang air kecil di sana. Selama aku buang air kecil, aku berusaha nggak memperhatikan Rey yang terus menatapku. Aku tersentak kaget saat Rey tiba-tiba memelukku dari belakang. Aku buru-buru menaikkan lagi resletingku dan langsung memutar tubuhku menghadapnya. Membuat pelukannya terlepas.
“Aku mau keluar,” kataku berusaha menyingkirkannya dariku.
Tapi bukannya menyingkir, Rey malah makin merapatkan tubuhnya kearahku dan lagi-lagi dia memelukku. Harum tubuhnya langsung tercium di hidungku.
“Nggak boleh,” desis Rey sambil memutar radio kecil yang ada di atas rak dekat sabun dan shampo.
Radio itu sudah sejak dulu ada di dalam kamar mandi ini. Biasanya para penghuni di sini memutarnya saat mandi. Ya itung-itung untuk menemani acara mandinya.
Rey terus menambahkan volume radio itu dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih saja memelukku. Setelah volume di radio itu sudah cukup keras, Rey kembali memelukku dengan ke dua tangannya. Dan anehnya aku hanya terdiam. Aku ingin berontak, tapi aku nggak bisa. Aku menikmati pelukannya. Lucu. Aku kan masih marah, tapi aku sama sekali nggak bisa menolaknya.
Bulu kudukku langsung berdiri saat bibir Rey mendarat di leherku. Rey terus menyerang leherku dengan ciumannya, hisapannya dan gigitannya. Tapi hisapan dan gigitannya nggak sampai meninggalkan tanda di leherku. Rey terus merangsangku, dan usahanya itu berhasil. Nafasku mulai memburu. Tangan Rey yang tadi memelukku, kini sudah menyusup ke dalam kaos ku dan memainkan kedua nipple ku.
“Reeeey…” desisku saat Rey menaikkan kaosku dan menggigit pelan nipple kiri ku.
Aku terus merintih menahan geli saat Rey bermain-main dengan kedua nipple ku. Kali ini aku benar-benar sudah lepas kendali. Aku sampai meremas-remas rambut basah Rey untuk menahan semua kenikmatan itu. Setelah beberapa detik dia bermain-main di dadaku, Rey menegakkan badannya lalu mendekatkan wajahnya ke arahku. Kamipun berciuman. Rey dan aku saling melumat dan menghisap bibir satu sama lain. Sesekali aku merasakan Rey menggigit-gigit kecil bibirku. Tak jarang Rey menjilat bibir atas dan bawahku dengan lidahnya yang nakal. Perlahan tapi pasti, lidahnya mulai masuk kedalam mulutku. Kami saling membelitkan lidah dan saling berlomba untuk menunjukkan siapa yang bisa mendominasi permainan kali ini. Dan seperti biasa…aku kalah darinya.
Saat kami berciuman, aku terus memeluk lehernya. Menekan leher belakangnya ke arahku, supaya ciuman kami nggak terlepas. Sedangkan Rey terus membelai-belai perut datarku dengan jari-jari tangannya. Yaaa…mungkin nggak terlalu datar. Ada sedikit lemaknya. Kebanyakan makan sih –a.
“Aaaaaaaaaahhhhhh….” desisku saat merasakan tangan Rey sudah mendarat dengan sukses di depan celanaku yang sudah menonjol.
Rey terus membelai tonjolan di celanaku. Sesekali Rey meremas juniorku dengan gemas. Aku cuma bisa menggigit bibir bawahku saat merasakan godaan yang Rey suguhkan untukku. Setelah beberapa saat Rey bermain di luar celana pendekku, Rey mulai menurunkan celana pendek dan celana dalam yang aku pakai. Saat itulah muncul sang jagoan kecilku dengan sangat gagah berani. Tiba-tiba Rey langsung berjongkok dan…
“Ja…jangan. Kotor,” kataku sambil menutup juniorku dengan kedua tanganku saat Rey hampir melakukan karaoke.
Rey langsung menatapku penuh tanda tanya.
“Aku kan habis buang air kecil tadi,” kataku sambil menahan malu.
Untuk beberapa saat kami masih terdiam dengan posisi seperti itu. Tapi sedetik kemudian aku mulai merasakan kecupan-kecupan di jari-jari tanganku yang menutupi juniorku. Kecupan yang awalnya hanya bersarang di jari-jari tanganku, kini makin turun ke area terlarang. Aku hanya bisa menahan nafas saat melihat wajah Rey makin mendekati daerah yang nggak terlindungi oleh tanganku.
“Aaaaaahhhh…” desisku lagi saat kecupan itu sudah bersarang di twins ball ku.
Seketika itu juga pertahananku runtuh. Aku mulai menjauhkan jari-jari tanganku pada juniorku yang kini sudah menjulang sempurna. Percuma juga aku menutupi juniorku kalau aku menginginkan kenikmatan yang lebih. Ternyata Rey nggak menyia-nyiakan hal itu. Begitu tau tanganku sudah meninggalkan juniorku, dia langsung meremas perlahan juniorku itu. Nggak cuma itu, Rey juga mulai mencium juniorku dari pangkal sampai ujungnya. Di kecupnya lubang ujung juniorku dengan lembut. Yang bisa aku lakukan cuma menutup mata dan menikmati apa yang dia lakukan. Perlahan-lahan Rey mulai menyapu juniorku dengan lidahnya yang basah. Jujur saja, aku sangat berdebar-debar dengan tingkahnya ini. Aku langsung menarik Rey sampai berdiri dan langsung mencium bibirnya dengan penuh nafsu. Ciuman kami berakhir saat kami sudah kehabisan nafas. Untuk beberapa saat kami cuma berpandang-pandangan sambil mengisi paru-paru kami dengan oksigen. Rey membalikkan tubuhku sampai aku membelakanginya. Aku tau apa yang dia mau. Tanpa pikir panjang aku mulai menunggingkan tubuhku dengan bertumpu pada sisi bak mandi. Dan benar saja, Rey langsung memanjakan hole ku dengan lidahnya. Lidahnya itu memutar-mutar di dinding holeku, lalu menusuk-nusuk hole ku yang terus berkedut-kedut (^////^)a.
Ahhhhh…aku benar-benar sudah lupa diri sekarang. Aku mau yang lebih dari ini.
“Masukin Reeeeyyy…masukiiiiinnn…” desisku mulai nggak sabar.
Rey yang tau maksudku akhirnya menghentikan aktifitasnya.
“Kalau aku lanjutin, kamu nggak boleh nyuekin aku lagi,” desis Rey di telingaku.
Tangan kirinya melingkar di perutku, sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan kananku yang bertumpu di sisi bak mandi. Aku juga merasakan junior Rey menempel di belahan pantatku.
“Vin??” kali ini Rey mulai memainkan juniornya di dinding hole ku.
Perbuatan Rey sudah membuatku benar-benar terbuai oleh nafsu.
“Iyaaa…iyaaaaaa,” sahutku sambil memundur-mundurkan pantatku agar junior Rey makin menempel pada dinding hole ku.
Mungkin saat ini aku terlihat murahan…tapi aku benar-benar dibuat pusing oleh nafsu yang terus memuncak. Toh nggak ada salahnya kan menjadi seperti ini di depan pacar sendiri.
“Iya apa?” tanya Rey sambil menjauhkan juniornya dari dinding hole ku.
“Iya…aku..aku nggak akan nyuekin kamu lagi,” desisku dengan suara parau.
Aku tersentak kaget saat Rey merapatkan tubuhnya ke arahku. Dia memelukku sambil mencium dan menjilat daun telingaku. Nggak cuma itu, Rey juga mulai menyerang leherku lagi dengan ciumannya dan gigitannya. Aku bisa merasakan nafasnya yang memburu. Sama sepertiku. Dia juga sudah di kuasai nafsu.
“Aaaaaahhhhh…” rintihku saat merasakan benda tumpul mulai merasuki tubuhku, “Reeeeeyyy….”
Rey terus melesakkan juniornya ke dalam hole ku. Aku sangat menikmati pergesekan antara junior Rey dan dinding hole ku. Aahhhh…rasanya benar-benar sulit di ungkapkan dengan kata-kata. Yang ada di otakku cuma kenikmatan dan kenikmatan. Cuma Rey yang bisa membuatku menikmati semua ini. Permainannya yang lembut dan pelan, membuatku seperti dimanjakan dan benar-benar di sayang.
“Aaaahhh…aaahhh….eeehhmm…” erangku saat Rey mulai menggenjotku dengan tempo tetap dan teratur.
Nggak jarang Rey memanjakanku dengan membelai, meremas dan mengocok juniorku. Membuatku benar-benar merasakan kenikmatan berlipat-lipat. Apalagi bibirnya terus menyerang leher dan punggungku. Uuuuggghhh…Rey…kamu membuatku gila. Gila dengan cintamu dan permainanmu.
“Eeeeeeggghh…aahhhh…aaaaahhhhhh….” aku terus mengerang-ngerang dia buatnya.
Setelah beberapa saat Rey menganalku sambil berdiri, akhirnya Rey menarik tubuhku. Dia membawaku ke closet dengan tubuh yang masih menyatu. Rey duduk di atas closet yang sudah tertutup. Kali ini akulah yang mengambil alih permainan. Aku mulai menaik turunkan pantatku. Memainkan dinding hole sampai menjepit erat junior Rey yang ada di dalamnya. Membuat Rey mengerang pelan sambil mencengkeram tangan ku. Setelah beberapa saat aku dan Rey bermain dengan posisi yang sama, Rey memegang pinggulku dan membantuku menaik turunkan tubuhku dengan cepat. Tiba-tiba Rey menekan pantatku ke bawah, membuat juniornya tertanam lebih dalam ke hole ku.
“Eeeeegggghhhhh…” erang Rey sambil menggigit punggungku, sedangkan aku hanya bisa menggigit bibir bawahku saat menyadari ada yang menyembur masuk ke dalam tubuhku.
Rey mengeluarkan spermanya beberapa kali dalam tubuhku. Kalau aku bisa hamil, mungkin aku akan hamil.
Tiba-tiba aku merasakan kalau klimaks ku sudah dekat. Apalagi erangan Rey tadi membuat gairahku semakin memuncak. Aku langsung mengocok juniorku dengan tempo cepat. Dan nggak butuh waktu lama aku sudah menyemburkan spermaku.
“Aaaaahhhh….aaaaahhhhhh…. Reeeeyyy….” erangku saat aku menembakkan spermaku beberapa kali ke udara.
“Eeehhmm…” erang Rey yang juniornya yang masih sensitive terjepit makit erat di dalam hole ku.
Untuk beberapa saat aku dan Rey hanya terdiam menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kami rengkuh. Aku juga menyadari kalau junior Rey makin mengecil di dalam hole ku.
“Uuuggghh…sayang banget sama kamu,” desis Rey sambil memeluk tubuhku erat.
Untung saja aku membelakangi Rey. Jadi dia nggak tau kalau sekarang wajahku jadi aneh karena salting. Mungkin istilah ‘masalah akan selesai setelah bergumul di atas tempat tidur’ nggak sepenuhnya salah. Tapi untuk sekarang sepertinya ada sedikit perbedaan. Kalau yang terjadi sekarang adalah masalah akan selesai setelah bergumul di dalam kamar mandi –a.
Doookk…Doookk…Doookk…
Tiba-tiba ada yang menggedor pintu kamar mandi.
“Kalian masih lama?” tanya seseorang dari depan kamar mandi yang sukses membuatku melotot menatap Rey.
Pak Nyoman!!!!!
MAMPUS!!!!!!!
January 20th, 2012 at 5:22 pm
Bagus n verry hoottt.memang u clay jempolan dah.kpn lanjutannya.gw seneng bgt baca cerita cinta rey n kevin.em ada ya di dunia neh cinta spt tuch? **;”;”_”.
January 20th, 2012 at 10:26 pm
sabar…bru jg update hehe
January 20th, 2012 at 10:35 pm
kk, rencana love storm mau brp eps? love storm jangan bad ending ya kk.. please~~
January 20th, 2012 at 10:57 pm
blm ada rencana mw part brp…asal nulis aja dl hehehe….aq bwa santai kok…heemm??ending??liat ntr ^^
January 21st, 2012 at 12:37 am
Wew si rey nakal juga ya, haha ~pengeeen
January 21st, 2012 at 12:45 am
hihihihihihi…praktek ama bf sndri2 ya ^^
January 21st, 2012 at 9:05 am
Ah seru bangggggggggeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeetttttttttttttttttzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz…………………….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Wlau pun ag’ telat!
I love rey and kevin!
January 21st, 2012 at 9:36 am
hehehehe thx riyu ^^
January 23rd, 2012 at 2:44 pm
ah jd g sbr pgn bc lnjtny.eh yg love sweet mana lnjtnyj
January 28th, 2012 at 12:58 pm
hehehe…sabar yaaaaa
January 28th, 2012 at 9:58 am
”’hahaha”
”zzzzzzzzz”’zzzzz”
””nah lu ketauan ”’
””’kpan lanjut na ni mbak jadi ngak-ngak -kuat”
””’
January 28th, 2012 at 1:06 pm
sabar yaaaa ^^
January 28th, 2012 at 11:51 pm
herlin itu siapa sih?.. penasaran !,, kapan lanjutnya nih?.. ikut baca yah^^