Love Sweet and Sour 20

Genre: Romance and a little bit Humor

Rated: T? O.o

By: Ruechi (Pink)

-Original Story not Fanfict-

(this is a fiksi story not a real story)

~~

Chapter 20

Rifky POV

Dua hari sejak insiden yang menimpa dirumahku(?). Kini aku, Mira, Ryo, Dendi dan Agus sudah mulai dekat layaknya teman, kecuali Ryo dan Agus dengan Dendi tentunya. Kalau kami berpapasan selalu saja Dendi memasang wajah kesal tiap kali melihat Ryo yang dingin seperti biasanya ataupun Agus dengan tingkah lakunya yang heboh.

Tak heran jika murid sekolahanku memandang kami—khususnya aku, Mira dan Dendi selalu jalan dengan dua orang yang disegani yaitu Ryo dan Agus. Yaah… hanya mereka yang lebih terkenal dibanding dengan teman-temannya, mereka memang mempunyai banyak teman, tapi yang lebih terkenal tuh ya itu… satu orang cerewet dan satu orang pendiam.

Saat ini juga sebentar lagi sekolahku akan menghadapi bencana besar! Bencana yang membuat semua murid-murid stress mendadak, kejang-kejang(?), bahkan sampai bunuh diri! Oke… yang terakhir itu agak ngaco, lupakan saja itu terlalu lebay. Hari ini siswa siswi dipulangkan lebih cepat karena guru-guru mau rapat untuk UTS yang akan mulai tiga hari mendatang. Bencana yang kumaksud tadi itu adalah UTS.

Aku dan Mira pun langsung bergegas keluar kelas.

“Rifky… maafkan aku gak bisa belajar bareng buat UTS nanti, aku ada janji sama Nova mau nemenin dia belajar juga, pliss… maaf ya!” katanya sambil mengatupkan tangannya di depan wajahnya layaknya orang memohon, sementara aku sih santai-santai aja mau jadi apa gak, justru bersyukur banget kalau dia gak jadi ikut belajar bareng sama aku, soalnya aku selalu jadi sasaran ‘bahan siksaan’ kalau dia lagi sensi, apalagi aku dan dia ada janji mau belajar bareng sama Dendi. Fuuh! Kalau dia udah ketemu Dendi, pasti mereka berdua beranteeeeeem mulu! Sampai-sampai aku kena juga!

“Ya ya ya… gak apa-apa kok,” kataku dengan nada santai.

“Beneraaan??” tanyanya sambil berbinar-binar.

“Yup!” kataku.

“Hehehehe… Danke~”

“Bitte…”

“Kalau gitu aku duluan ya, si Nova uda nungguin di gerbang sekolah, bye Rifky-chan~” katanya sambil mencubit pipiku agak keras lalu berlari meninggalkanku yang sibuk mengerang dan mengelus pipiku yang sedikit terlihat memerah.

“Apaan tuh namanya? ‘Rifky-chan’? gak elit banget tuh nama!” gerutuku tidak terima saat namaku dipanggil seperti itu, gini-gini aku masih cowok tulen, woi!

“Hahahahaha… panggilan seperti itu cocok untuk lu tau!” tiba-tiba ada suara tawa yang membuatku terkejut lalu kembali seperti biasa, siapa lagi kalau bukan Agus. Kulihat Ryo yang ada disampingnya asyik mendengarkan musik lewat headsetnya itu.

“Enak saja! aku ini cowok!” kataku kesal.

“Masa sih? Gue gak percaya, apa perlu gue panggil elu ‘Bocah-chan’ aja biar keren! gimana? Gimana?” tanyanya padaku, aku pun langsung mengerutkan keningku dan memanyunkan bibirku. APA-APAAN TUH NAMA! ITU BUKAN GAK ELIT LAGI, TAPI BISA MENGHANCURKAN MARTABAT(?) NAMAKU YANG KEREN INI!

“GILA!” teriakku, dia malah tertawa makin keras membuat siswa siswi yang lewat disitu menatapnya dengan tatapan aneh + takut.

“Gak diajarin sopan santun ya? tertawa di muka umum,” kata Dendi yang tiba-tiba sudah berada di belakangku, sontak aku langsung membalikkan badanku untuk melihatnya, mataku pun langsung berbinar-binar saat melihat wajah yang daritadi kunantikan.

“Dendi!”

“Waketos lagi waketos lagi yang nongol, bosen gue jadinya! Kapan muka lu itu berubah sih?” cibir Agus.

“Mukamu yang harusnya dirubah, gak pernah ngaca selama setahun ya?” sindir Dendi.

“Eh! Elu ngajak ribut ma gue, ayo dilapangan sekarang juga!” kata Agus yang mulai kebawa emosi.

“Gak juga,” katanya dengan nada dingin, tuh kaaaan mulai lagi kalau mereka udah didekatin! Sepertinya Dendi memang benci dengan orang yang seperti ini.

“Dendi!” tiba-tiba sebuah suara memanggil namanya, dan seseorang itu langsung mendekatinya.

“Hari ini ada rapat osis, apa kamu lupa?” katanya.

“Tidak juga… sorry tadi aku mau liat sobatku dulu,” kata Dendi sambil melirik ke arahku, aku pun jadi tersipu malu. Orang itu pun ikut-ikutan melirikku dengan pandangan cuek lalu beralih lagi ke Dendi.

“Ya sudah anak-anak udah pada ngumpul,” katanya sambil berjalan mendahuluinya.

“Yup. Rif… aku rapat dulu ya, kalau mau pulang, pulang saja… nanti aku kerumahmu langsung,” katanya lagi sambil mengacak-acak rambutku lalu setelah itu dia pun buru-buru pergi ke ruang Osis.

“Hei Waketos sialan! Elu jangan lari dari gue, brengsek!!” Ah! Aku baru tau kalau Agus dan Ryo masih berada di dekatku, tapi apa mau dikata? Dendi sudah keburu hilang duluan.

“Sialan tuh anak! Brengsek banget! Kalau bukan temennya bocah ini, gue uda ngabisin dia!” gerutunya dengan kesal.

“Kakak gak pulang?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Oh iya! Hampir lupa tujuan gue kesini!” dia pun menepuk jidatnya, lalu dengan cepat menyikut lengan Ryo yang sibuk dengan headsetnya.

“Emangnya ada apa?”

“Gini loh… Ryo mau minta ditemenin belajar, tapi gue gak bisa… soalnya gue ada urusan,” kata Agus dengan gaya sok cool yang dibuat-buatnya.

“Mau ngedate sama Risa kan?” elak Ryo dengan dinginnya.

“Nah itu elu tau, bro!” katanya sambil memukul lengan Ryo.

“Kakak gak biasa ya belajar sendiri?” tanyaku ke Ryo.

“Tidak juga, hanya saja…”

“Hanya saja?” ulangku.

“Rasanya gak enak kalau belajar sendiri.”

GUBRAK!

Ya ampuuun!! Itu kan sama aja! kalau ngomong selalu pendek-pendek dan susah banget dimengerti!

“Ya sudah, gue gak bisa lama-lama disini… Risa dah ngesms gue, bye Ryo and Rifky,” kata Agus sambil membaca pesan di hapenya lalu berlari meninggalkan aku berduaan dengannya.

“Tu-tunggu… tapi kenapa harus aku yang—HEY KAK AGUUSSS!!!” Shit! dia malah udah kabur duluan! Pupus sudah… niatnya yang mau belajar sama Dendi BERDUAAN!! HANCUUUUUURRRR!! >

Tapi… tapi… Kenapa harus aku yang dimintai tolong? Kan Ryo udah gede? Ngapain juga pakai ditemenin segala? Aku gak nganggap Ryo itu pengganggu or apa, tapi… kenapa tiap aku berdoa ingin berduaan sama Dendi yang datang selalu Ryo? Apa lain kali aku gak usah berdoa aja ya? Ya sudahlah… belajar dengan Ryo sekaligus Dendi dirumahku juga gak apa-apa.

“Kalau keberatan, tidak usah saja…” katanya tiba-tiba menyadarkan lamunanku, aku pun melirik ke arahnya yang masih saja memasang muka datar.

Sebelum aku mengeluarkan kata-kata, dia memotong duluan, “Hari ini entah kenapa aku lagi jenuh sendirian, aku butuh teman untuk menemaniku belajar.” seketika itu juga mulutku langsung bungkam, gak ada yang aneh sih… hanya saja tumben-tumbennya dia berbicara panjang lebar kayak gini, hehehe…

“Ya udah deh… kalau gitu langsung kerumahku aja yuk,” kataku setelah menghela nafas.

“Hm…” dia pun mengangguk dan mengikutiku dari belakang, sebenarnya niat dia mau belajar sama aku itu apa sih? Dan… kenapa ya akhir-akhir ini dia selalu saja ada dimanaku berada, jodoh kali ya? tapi… jodohku itu kan Dendi, hehehehe. :p

Oh ya hampir lupa, karena motorku sudah beres total, jadinya aku pulang dengan motor kesayanganku. Aaah… indahnya kalau ada kendaraan, jadi gak usah naik kendaraan umum dan gak usah takut terlambat.

“Kamu pulang naik apa?” tanyanya memecah keheningan diantara kami berdua.

“Dengan motorku,” jawabku.

“Kamu punya motor??” tanyanya, terlihat ada sedikit nada terkejut.

Aku pun mendelik ke arahnya, “Tentu saja! motorku itu rusak dan masuk bengkel, tapi sekarang sudah beres,” jawabku sambil manyun. Dia pikir aku ini gak punya motor apa? sialan!

“Oh… ternyata kamu bisa ngendarain motor juga,” ujarnya dengan nada santai.

“Jadi maksudnya aku itu gak bisa ngendarain motor gitu?” Aku pun manyun sekali lagi.

“Bukan aku yang ngomong.”

“RESE!!” teriakku yang udah kesal, lagi-lagi aku dikerjain kayak gini. Aku pun mulai mempercepat langkahku ke tempat parkiran tanpa memerdulikan orang yang dibelakangku. Sesampainya disana aku pun segera menghidupkan motorku untuk bergegas pulang, kulihat Ryo sudah siap dengan motor ninjanya, ternyata dia keren juga ya, tapi kenapa baru sekarang dia memperlihatkan motornya? Lalu kenapa waktu itu dia naik bus sama kayak aku?

“Lumayan juga motornya untuk ukuran seperti kamu,” katanya sambil melihat motorku dan aku secara bergantian.

“Maksudnya?” dia pun diam dan hanya menggidikkan bahunya. “Entahlah,” tambahnya.

Twitch!

Tiba-tiba muncul empat perempatan siku(?) di dahiku karena ulahnya, dengan kesal aku menaiki motorku tanpa berbasa-basi(?).

“Ayo,” ajakku, Lalu dia mulai melajukan motornya diikuti denganku dari belakang.

~~

Skip Time

~~

Sesampainya dirumah aku pun langsung membuka pagar rumahku dan memarkirkan motorku di garasi, begitupun dengan Ryo.

“Ayo masuk ke dalam kak,” kataku sambil membuka pintu rumahku, dia pun mengangguk dan melepas sepatunya lalu berjalan ke dalam rumahku diikuti olehku dari belakang dan mulai menutup pintu saat kami sudah masuk kedalam.

Kami pun buru-buru ke ruang keluarga untuk belajar, aku pun pergi menuju dapur untuk mengambil minuman dingin dan beberapa cemilan untuk dimakan saat belajar.

“Hm… nyaman,” desisnya sambil tersenyum tipis sambil bersandar pada sofa yang ada dibelakangnya, aku gak ngerti maksud dia apa… tapi ya sudahlah. Kukeluarkan buku pelajaran yang akan kupelajari, begitu pun dengan dia. Saat aku melihat buku yang dia keluarkan ternyata itu buku Kimia kelas 12! HAH! JADI DIA ITU ANAK IPA!! Sudah kuduga sejak dulu! dia itu pasti anak IPA! Gak mungkin orang yang pinternya kayak dia bisa masuk IPS?

“Jadi… kakak itu anak IPA ya?” tanyaku sambil menunjuk buku Kimia punyanya yang sudah tergeletak di meja.

“Emang kamu pikir apa?” tanya balik.

“Err, aku mikir juga sih kalau kakak itu IPA, tapi kayaknya gak mungkin…” desisku kurang percaya. Aku benar-benar telat untuk mengetahuinya, jangan-jangan Mira dan Dendi belum tau? atau mereka sudah tau duluan kali ya? mengingat kalau gossip mereka selalu nomor satu.

“Oh, kamu meremehkanku ya?” tiba-tiba nada bicaranya berubah jadi sedingin es(?).

“Ng..Si-siapa juga yang ngeremehin? aku kan hanya bilang gak mungkin kan orang berandalan kayak kakak bisa jadi anak IP–UPS!!” refleks aku langsung menutup mulutku karena kelepasan bicara.

“Ya sudah kalau gak percaya…” katanya cuek.

“Ma-maaf…” aku pun tertunduk.

“Buat apa?” tanyanya.

“Ka-karena salah mengira…” kataku lagi.

“Gak usah dipikirin.”

“So..soalnya dari awal juga, kupikir gossip-gossip tentang kakak itu cuman bohong, ternyata benar… aku saja kaget, ternyata kakak yang seperti ini sangat jenius dan berprestasi, pantesan saja guru-guru tidak terlalu mempermasalahin tentang kakak,” desisku sambil memalingkan wajahku ke arah lain. Aku gak tau apa yang sedang aku katakan, tapi jujur saja… aku sedikit iri dengan orang yang berada di depanku.

“Tidak usah dipikirin tentang gossip itu, bisa gila nantinya.”

“Siapa juga yang mikirin?” aku pun manyun untuk yang keberapa kalinya. “Oh ya! Kok kakak bisa pinter banget sih? Rahasianya apa?” tanyaku penasaran sambil memandang wajahnya yang menatapku sambil menopang dagunya dengan tangannya.

“Tidak ada… aku hanya mengikuti apa yang harus kuikuti,” katanya lagi.

“Hah?” tiba-tiba muncul tanda tanya dikepalaku(?).

“Kalau niat, pasti bisa…”

“Aku memang dari dulu ada niat untuk jadi pinter kok.” Dia pun diam.

“Kalau begitu beri tau rahasia untuk jadi pinter apa?” tanyaku penasaran.

Dia pun menghela nafas, “Kalau ada soal yang susah, tanyakan padaku,” katanya.

“Eh?” aku pun langsung bengong.

“Tidak bertanya, sesat dijalan…” katanya lagi. Aku heran… kenapa nih orang kok bicaranya gak jelas banget? udahlah gak jelas… pelit lagi! Untuk seukuran anak SMA, pikirannya benar-benar susah ditebak dan sangat misterius.

“Err… baiklah, kalau begitu… mohon bantuannya,” kataku sambil menundukkan kepalaku.

“Ya.” Satu kata yang dia lontarkan terakhir itu benar-benar kata terakhir untuk kami saling berbicara, istilahnya hening seketika.

Kulirik dia yang sedang sibuk membolak-balikkan buku Kimia yang tidak berdosa itu(?), tampangnya yang serius benar-benar lucu, datar gitu sampai gak ada ekspresinya(?). Tanpa sadar aku pun jadi gak fokus kepada pelajaran dan malah fokus menatap wajahnya yang serius membaca dan menulis sesuatu di buku tulisnya sambil menopang dagu dengan tangan kirinya. Kenapa jantungku berdebar-debar ya?

Deg Deg Deg

Jantungku… kenapa tiba-tiba jadi aneh gini sih?

Aku pun memegang dadaku lalu menekannya kuat-kuat agar detak yang tidak karuan ini dan rasa aneh ditubuhku segera menghilang.

“Hei.” Aku pun mendongakkan wajahku menatapnya yang sekarang sedang menatap wajahku dengan ekspresi datarnya.

“Err… ya?”

“Kenapa—mukamu memerah?” dia pun menunjuk ke mukaku. Aku pun langsung kaget sambil refleks memegang mukaku, “Eh? Ah? Emangnya merah ya?” tanyaku balik, dan dia malah mengangguk.

“Kamu sakit?” tangannya pun tiba-tiba menyentuh dahiku. Huwaaaaaaaaa! Rasanya aneh! Aneh! Aneh! Aneeeeeh! Seketika aku menggeleng cepat, lalu menepis tangannya dengan kasar.

“Aku gak sakit!” kataku dengan cepat sambil mundur beberapa langkah, karena kami duduknya dilantai, jadi aku menyeret kakiku untuk sedikit menjauh dari meja dan punggungku sukses berbentur dengan sofa yang ada di belakangku. Dia langsung memandangku dengan aneh, “Lalu kenapa—pipimu terlihat merah?” tanyanya.

Aw shit! Ini pertanyaan yang gak bakal bisa kujawab! Kenapa malah nanya yang aneh-aneh sih? Gak mungkin kan aku bilang itu karena kakak? Huwaaaaa!! Rasanya pengen jedotin kepala ketembok! Tapi sayangnya aku masih sayang sama kepalaku. Lalu apa? aku pengen banting barang, tapi… gak ada barang yang udah gak kepakai, terus apa dong? Aaaaaaaaaaaaaa!! Kenapa aku jadi gila gini sih? Dendi help me! Cepetan datang kenapa? Sengsara banget aku berduaan sama dia!

“Hei… kenapa diam? Melamun?” tanyanya lagi, aku baru tau kalau aku lagi melamun tadi.

“Ah… enggak, si-siapa juga yang melamun!” elakku sambil memalingkan wajahku ke arah lain. Sial! sial! siaaaaal!! Berdebar disaat yang tidak tepat dan kenapa mukaku makin panas sih? Apa aku memang demam ya? tapi gak mungkin kan, mengingat kalau aku ini baik-baik saja dari kemarin.

Lantas kenapa aku berdebar seperti ini? biasanya kalau kita berdebar itu kan saat berhadapan dengan orang yang kita sukai, seperti saat aku dengan Dendi… tapi kenapa melihat Ryo saja sudah berdebar?

Berdebar dan suka?

Itu artinya… apa aku sudah mulai menyukai—Ryo?

EH?

MA-MAKSUDNYA MENYUKAI PRIA BERANDALAN YANG ANEH DAN SOK MISTERIUS ITUUUUU????

HAH! TIDAK MUNGKIN!!

“TIDAK MUNGKIN AKU MENYUKAINYA!!!” teriakku tanpa sadar sambil menjambak rambutku karena frustasi memikirkan hal yang sangat MUSTAHIL ITU!!

“Menyukai siapa?” suara dia pun langsung membuyarkan lamunanku seketika, aku yang tersadar langsung melihat ke arahnya. Gawat! Dia kan masih ada disini!!!

“Hah? Emangnya tadi aku bilang apa?” tanyaku pura-pura bego atau emang dasarnya aku sudah bego ya gara-gara mikirin hal yang gak penting kayak gitu.

Andaikan malaikat penyelamatku(?) ada disini, mungkin aku sudah bilang di depan Ryo sekalian kalau aku menyukai Dendi! titik gak pake koma! Bodo amat deh kalau si Dendi mati berbusa gara-gara dengar omonganku. Tapi sayangnya itu hanya bualanku saja, gak mungkin aku dengan beraninya ngomong seperti itu… bisa-bisa mereka berdua malah menjauhiku, huks…

“Kamu melamun lagi…” desisnya sambil menatapku intens, kali ini aku langsung menepis semua pikiran-pikiran aneh yang tidak berujung dari otakku.

“Siapa yang ngelamun!” elakku sekali lagi.

“Jangan berbohong! Siapa orang itu?” desisnya sambil menatapku dengan tajam, membuat bola mataku bergerak-gerak ke arah lain karena agak risih diliatin seperti itu.

“Maksudnya?”

“Siapa orang yang—kamu sukai?” tanyanya lagi, kali ini suaranya terdengar seperti penasaran.

“HAH!” aku pun memasang wajah bego kepadanya. Ngapain dia nanya-nanya tentang orang yang kusukai?

“Siapa?” desisnya.

“Ng… gak ada kok! Emang siapa yang kusukai? Semuanya aku suka kok… termasuk kakak—umph!” refleks aku menutup mulutku dengan cepat, tapi sayangnya kata-kata terlarang dan gak masuk di akal itu sudah kuucapkan! Mati aku!!

Aku pun melirik ke arah dia yang sedikit tercengang? Err… bagaimana ini?

“Kamu—“ belum sempat dia mengucapkan kata lagi, aku memotongnya.

“Ano… maksudnya suka sebagai teman loh, ki-kita kan teman… ya gak? hahahahaha…” kataku sambil tertawa garing dan menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.

“Oh… iya,” dia pun menganggukkan kepalanya, tapi kelihatannya tingkah dia kok sedikit—gugup ya?

“Emangnya tadi kakak mau ngomong—“ Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahku, membuatku menghentikan perkataanku, sepertinya yang mengetuk itu—Dendi deh.

“Ada yang ngetuk, kayaknya itu Dendi deh…” kataku dengan riang, buru-buru aku berdiri dari dudukku lalu mulai berjalan ke arah pintu.

Saat aku mau berlari ke arah pintu, tanpa sadar juga kakiku tersandung dengan kaki meja.

“Huwaaa!!”

“Awas!”

BRUK!

“Aw…” Kenapa lantainya hangat dan empuk?

“Kamu tidak apa?” Seketika aku mendongakkan wajahku dan disinilah jantungku kembali berdebar.

Bagaimana bisa—aku yang jatuh… SEKARANG BERADA DI ATAS TUBUHNYA??!! I-ini posisi benar-benar—ARGHHH!!! KENAPA PULA AKU HARUS DITOLONG OLEHNYA??!! Wajahnya sangat dekat dengan wajahku sehingga aku bisa merasakan hembusan nafas yang hangat darinya, baunya juga khas banget, seperti yang pernah kuceritain sebelumnya.

“A-a… kak… kenapa menolongku?” tanyaku sedikit gugup. Pandanganku tidak bisa lepas dari pandangannya, hidungku dan hidung dia pun hampir bersentuhan, matanya itu benar-benar menghipnotisku.

“Ya jelas saja! Itu karena—“

“RIFKY?!”

DEG!

Aku dan Ryo langsung melihat ke sumber suara itu. Aku melihat seseorang yang berdiri tak jauh dariku sedang menatap dengan pandangan tidak percaya kearah kami berdua, aku pun tak kalah terkejut saat orang yang berdiri di hadapanku itu adalah orang yang kusukai.

“De-Dendi??” Oh shit! Sepertinya ini akan menjadi malapetaka untukku. Dendi menatapku dengan pandangan horor seakan-akan dia baru melihat hantu, dan sialnya! Badanku tak bisa bergerak untuk menyingkir dari atas tubuh Ryo.

“Apa yang kalian lakukaaan!!??” aku pun langsung berdiri dari posisi tadi dan Dendi menatapku dan Ryo dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.

“Den… i-ini, tadi aku—“ belum sempat aku menyelesaikan perkataanku.

“Sudahlah!” Dendi langsung berbalik dan pergi keluar dari rumahku, aku yang mulai takut langsung mengejarnya, kenapa ini bisa terjadi sih? Apa yang ada dipikirannya setelah dia melihatku dengan Ryo dalam keadaan seperti itu?!! Oh my! Aku akan mengutuk diriku sendiri, kalau dia sampai marah! Tapi… kenapa dia marah? Bahkan saat aku mau menjelaskan dia malah pergi begitu saja.

“Hei Den! Tunggu bentar!” saat tiba sampai depan teras aku langsung menarik lengannya, dia langsung menepis tanganku.

“Kamu ini kayak apaan aja! sampai ngambek gitu! dengerin omonganku dulu!” bentakku padanya yang masih saja gak mau membalikkan badannya untuk menatapku.

“Lepasin! Sudah jelas-jelas aku melihatnya sendiri! Gak nyangka kau dan dia—AH SUDAHLAH! I don’t care!” desisnya. Tiba-tiba dia mendorongku hingga aku hampir terjatuh, lalu dengan cepat dia menaiki motornya dan pergi begitu saja dari rumahku. Kalau kamu bilang gak peduli, kenapa gak mau dengerin omongankuuu??

“DENDIII!!!” aku berteriak dan mengejarnya sampai depan rumahku, tapi dia malah melajukan motornya dengan sangat kencang.

“DASAR BODOH! DENGARKAN AKU DULU!! INI SALAH PAHAM, BRENGSEK!!!!” teriakku sangat keras, tapi tetap saja… yang kulakukan itu percuma, karena dia gak bakal dengar apa yang kukatakan. Siaaaaaall!

Bodoh! Bagaimana ini? dia melihatku dalam posisi begitu… apa dia akan membenciku? Membenci sahabatnya sendiri? Kenapa… kenapa dia tidak mau mendengarkanku? Kenapa dia menatapku dengan pandangan seperti itu? bagaimana kalau dia membenciku? Aku harus gimana? Apa yang harus kulakukan? Sial! Dendi bodoh! Dengarkan aku dulu! siaaal!! Jangan sampai dia mikir yang macam-macam karena kejadian tadi!

Aku menjambak rambutku agak keras, “Argh! Aku.. takut…” gumamku lirih.

“Rifky…” tiba-tiba Ryo menepuk pundakku dan memanggilku, aku yang sudah kalut pada perasaanku hanya mendekatinya dan menyentuh bahunya, lalu saat itu juga aku memeluknya.

“Kak, apa yang harus kulakukan supaya dia gak marah sama aku? Aku gak mau dibenci olehnya…”

“Sudahlah, biar besok aku yang jelasin…” katanya sambil mengelus kepalaku. Bukan masalah itu… bagaimana kalau dia sempat mikir yang tidak-tidak tentangku?

“Tapi—“

“Kenapa harus cemas? Besok aku bakal jelasin kok.”

“Bagaimana kalau dia gak mau dengar? Aku takut…” kataku dengan cemas. Tiba-tiba Ryo mendorong keras bahuku sehingga aku sedikit terkejut dengan tingkah lakunya, lalu dia menatapku dengan pandangan yang sama seperti Dendi tadi. Apa? kenapa dia menatapku seperti itu?

“Kenapa harus begitu takut sih? Kuakui kalian itu sahabat dekat, tapi tidak harus takut seperti itu kan?” mendengar kata-katanya, aku pun terdiam dan menggigit bibir bawahku.

“Waktu dia melihat kejadian kecil tadi, kamu langsung ketakutan dan mengejar dia… seolah-olah kamu benar-benar takut kehilangannya.” Dia terdiam sejenak.

“Aku heran, belakangan ini sering kuperhatikan… tingkah laku kamu padanya itu sangat berbeda,” ujarnya lagi.

“Maksud kakak?”

“Maksudku… tatapan kamu, sikap kamu dan semua tingkah lakumu padanya itu seperti ‘berhadapan dengan orang yang disukai’.” Nafasku langsung tercekat mendengar perkataannya. Kutatap wajahnya dengan lekat, jujur saja… kepalaku tidak mau diajak bergerak, seolah-olah kaku begitu saja.

“Katakan padaku yang sebenarnya… apa kamu ini menyukai—Dendi?” pertanyaannya yang terakhir benar-benar membuat dadaku sangat sesak dan suhu tubuhku mendingin seketika.

.

Tbc

Note: Maaf lama… semoga kalian puas dengan chapter ini… T.T makasih yang udah ingetin cerita ini untuk segera di updet dan makasih juga yang sudah mau baca ceritaku ini. ToT


12 Responses to “Love Sweet and Sour 20”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s