AUTHOR:;: Cherry Chibi>w<
“YAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAY!!!”
DEG
“A-apa tadi!?” tanyaku ke Rinka. Aku kaget gara-gara sempat ngelamun tadi.
“Au tuh. Dewi,” Rinka menunjuk Dewi yang berlari di depan kami dengan tatapan matanya. Terlihat cewek itu menarik Hana ke sekolah dengan penuh semangat dan tawa yang keras. Dan dapat kudengar teriakan kekesalan Ozha pada Dewi. Entah apa yang terjadi. Hahaha, Dewi ngusilin Ozha lagi ya. Dasar anak itu…
“Lari, yuk!” ajak Rinka. Aku menoleh menatapnya dan segera mengangguk.
“Let’s go!!” Rinka berlari. Tanganku yang masih digenggamnya akhirnya membuat tubuhku ikut tertarik. Aku dan Rinka berlari ke sekolah dengan bergandengan tangan, melewati Ozha dkk dengan berseru, “Duluan~~!!”
“Hm.” Ozha Cuma mengangguk kecil.
Akhirnya kami sampai di gerbang sekolah. Pegangan tangan kami lepas. Aku membenahi posisi tas punggungku yang melorot dan Cuma celana yang kupakai. Daritadi lari sebenarnya aku megangin nih celana. Rinka maksa aku lari, sih! Mana perbandingan kaki kami yang terpaut sangat jauh itu membuatku makin kewalahan.
“Oh ya,” ucap Rinka saat kami berdua melepas sepatu sebelum masuk sekolah. Tanganku berpegangan di gerbang sambil melepas sepatuku setelah membenarkan celanaku yang melorot.
“Apa?” sahutku.
“Besok jadi, kan?”
“Apanya?”
“Ya main. Sebagai ganti aku nggak ikut renang hari ini.”
“Oh itu. iya, jadilah. Kamu maunya di mana?”
“Eumm… ke SS(Solo Square)? Karaoke atau main. Atau ke GM(Grandmall)? Nonton film.” Sarannya sambil memutar bola matanya sesaat.
“Sama yang lain?” tanyaku sambil masuk ke gedung sekolah. Rinka berjalan di sampingku.
“Terserah, sih. Tapi aku inginnya berdua.”
“Kalau berdua nanti kamu bosen karaokenya? Katamu kurang seru kalau Cuma berdua.”
“Ya terserah kamu. iya, sih kurang seru kalau Cuma berdua karaokenya. Atau ajak yang lain? Tapi yang lain mau atau nggak?”
Aku berpikir sejenak. Siapa yang mau, ya? Aku dengar semua sudah punya acara sendiri-sendiri. Kuletakan sepatuku di loker sepatu lalu masuk ke dalam kelas yang ternyata sepi. Waaaah, semuanya pada tepar. Kecapean, ya? Tidur di lantai semua gitu. Tiap kelas di sekolah kami termasuk luas, selalu tersisa ruang untuk menggelar karpet atau bagian yang kosong dari kursi dan peralatan lainnya. Makanya itu bisa bebas tiduran kayak gini.
“Berarti jadinya ke Solo Square, nih?” tanyaku sembari menaruh tas dan bawaanku di lantai yang nggak dipakai untuk tiduran sama yang lain. Rinka menaruh tasnya di sebelah tasku lalu duduk di lantai. Dia menarik tanganku agar duduk di depannya. Aku menurut dan duduk di depannya dengan posisi membelakanginya. Tiba-tiba Rinka melingkarkan tangannya di leherku, yang akhirnya membuat kepalaku jatuh di paha Rinka.
Aku membenarkan posisiku. Kuselonjorkan kakiku lalu tanganku melingkar di leher Rinka juga. Ah, capek juga ternyata. Tapi kalau tiduran alasnya paha Rinka nggak begitu empuk.
“Maybe,” Rinka memutar bola matanya. “Lha yang lain mau nggak?”
“Tanya aja,”
“Oi, oi, aku nggak bisa tidur kalau kalian mesra-mesraan di deketku,” Ucap seseorang di samping kananku. Aku menoleh ke sumber suara. Terlihat Dewi sedang menatap kami berdua dengan tatapan datar.
“Ya jangan tidur di situ, dong!” sahutku. “Perasaan aku sama Rinka duluan yang di sini.”
“Bener? Seingatku aku duluan, ya?” balas Dewi.
“Ingatanmu kan ‘begitu’.” Ucap Rinka. “Lagian emang aku sama Kinna duluan yang di sini. Kamu yang menuh-menuhin tempat,”
Aku mengangguk mengiyakan dan detik berikutnya aku sadar ada sesuatu yang berbeda dari Dewi. Apa ya…? Heumm… agak lesu? Mungkin kecapean. Walau sekilas lihat nggak beda tapi dari tatapan matanya itu, loh. Aku lumayan bisa membaca perasaan orang.
Eumm… mungkin…?
“Mana Hana? Tumben nggak kamu usili.” Tanyaku sambil bangkit dari posisiku dan melihat sekeliling kelas. Kok aku nggak lihat Hana, ya? Di mana Dewi nyembunyiin dia? Aku pikir Dewi agak lesu karena Hana ngambek sama dia gara-gara ditampari di bus tadi.
“Udah.” Sahutnya pelan.
“Mana?”
“Tuh,” Dewi menunjuk setumpuk jaket yang berantakan dengan posisi terbuka di lantai dekat papan tulis.
“Ya ampun! Kamu tenggelamin dia pakai jaket!?” seruku kaget. Benar, deh. Dia emang kejam.==
“Nanti kalau nggak bisa nafas gimana!?” tambah Rinka. Yah, walau nggak begitu terdengar panic tapi lebih terdengar kayak nasehatin.
Segera aku beranjak ke tempat Hana dan menyelamatkannya dari maut dengan melepas semua jaket yang menutupi tubuhnya. Ternyata saking capeknya Hana nggak sadar kalau dia nyaris dibunuh sama makhluk bernama Dewi itu. Dengan tenang dan pulasnya dia masih memejamkan matanya.
Akhirnya aku beranjak kembali ke Rinka dengan hati-hati karena nggak mau membangunkan Hana.
“Sadis.” Ucaku yang ditujukan pada Dewi dengan pelan. Dia Cuma balas nyengir nggak jelas, tanpa rasa bersalah. Mungkin karena saking sudah seringnya menjadikan orang lain bahan siksaannya dia nggak sadar kalau nyaris membunuh cewek itu.
“Auk ah~” Dewi berdiri dari posisinya, menghampiri Hana. Aku sudah bersiap-siap kalau akan terjadi sesuatu pada cewek malang itu, tapi tiba-tiba saja Rinka menarik tubuhku sampai terbaring di lantai hingga aku nggak bisa melihat Dewi dan Hana dengan jelas. Rinka berbaring di sampingku. Perutku terasa sedikit berat karena tangan Rinka menindih di sana, tapi aku nggak menyingkirkan tangannya.
“Jadinya ke SS bareng siapa?” tanya Rinka mengembalikan topic kami yang sempat terputus karena kedatangan makhluk tak diundang tadi. Posisinya menghadap padaku. Aku memutar sedikit badanku hingga kami berhadap-hadapan.
“Seterah.” Aku mengendikan bahu. “Ini acara kan untuk kamu.”
“Ya tapi kamu juga bantu, dong! Teman yang akrab sama aku… eumm…, yang longgar siapa aja besok?”
“Dunno.” Sahutku setelah mengingat-ingat acara teman-teman yang mereka ceritakan ke aku. “Pada sibuk semua.”
“Sibuk tepar di rumah sampai jam 10?” canda Rinka dengan senyum tipis. Aku terkekeh pelan.
“Maybe. Tapi kamu sendiri apa enggak?”
“Kalau untuk acara gini aku khususin bangun jam 8…” ucap Rinka mash dengan senyum. Aku kembali tertawa.
“Berarti Cuma berdua, ya?” tanya Rinka kembali.
Aku mengangguk ragu. “Maybe…”
“Berarti nggak usah karaoke, kan? Agak boros juga.”
“Baiklah,” sahutku setuju. “Berarti main di Fun World, numpang baca di Gramed(ia), terus makan. Udah gitu?”
“Ya mungkin aja di sana ada yang nyenengin… kaya gajah-gajahan yang kamu naikin…”
Aku cemberut. Dengan cepat aku menjiwit pelan lengannya hingga dia meringis.
Aku tahu maksudnya apa. Yang dia maksud itu kayak boneka mainan besar yang bisa jalan itu, lho. Yang dinaikan anak-anak keliling mall itu. Rinka suka menggodaku dengan menawariku untuk naik itu dan dia yang membayarnya. Kalau uangnya aku mau, tapi ogah naik gituan. Tapi Rinka bilang tenang aja soalnya kalau dari tinggi badan pasti nggak ada yang sadar kalau aku sudah SMP.
Padahal ada yang lebih pendek dari aku. Cuma aja gara-gara di samping Rinka-yang tingginya melebihi para guru- aku jadi kelihatan kecil.
Nyebelin tahu nggak!? Aku nggak suka yang ngatain aku pendek!!
Mentang-mentang Rinka tinggi, gitu?!
“Hehehe…” Rinak Cuma nyengir nggak jelas sambil ngelus-ngelus tangannya yang aku jiwit tadi.
“Bararti jadi ke SS, ya? Jam berapa?” tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraaan, tepatanya mengembalikan pembicaraan.
“Jam 10 aja. Numpang baca di Gramed abis itu makan diang terus main game. Oh ya, aku juga mau beli…”
“Beli apa.”
“Nggak jadi, deh. Besok aja, mungkin. Agak ragu aja soalnya uangku limit.”
“Apa, sih!?” tanyaku penasaran. Anak ini sukanya gini, ya… ngomong sesuatu nggak dilanjutin bikin penasaran orang lain.
“Besok aja. Lupakan kalau perlu.”
Tuh, kan!!
“Rinka!!”
“Apa?”
“Kasih tahu, nggak!?”
“Nggak penting juga. Udah, forget it!” Rinka mencubit pipiku.
Aku cemberut sambil menepis tangannya dan balas menjiwit pipinya. Rinka terima aja aku jiwit agak keras. Hehehe.
“Terus, kenapa nggak jam 9?”
“Aku masih tidur.”
“Dasar.” Denguku tapi sambil tersenyum tipis. Rinka ikut senyum.
Tiba-tiba Rinka menarik tangannya dari tubuhku lalu mengubah posisinya jadi tengkurap tapi tetap menatapku. Kedua tangannya dilipat di lantai dan Rinka menaruh kepalanya di lipataan itu. Kepalanya menghadap aku.
“Ketemu di J-Co?” Tanyaku. Maaf klu tulisn.a salh… cherry lupa)
“Nanti aku jemput, aja. Sekalian bareng.”
“Kamu nyepeda atau diantar?”
“Entahlah.” Rinka menaikan kedua alisnya bersamaan.
“Lha nanti kita ke SS neyepda atau jalan kaki? Dekat maslahnya. Kalau nyepeda sekitar 5 menit sampai, jalan kaki aku nggak tahu tepatnya berapa menit. Sudah lama sejak aku jalan kaki ke SS, seringnya nyepeda.”
“Nyepeda aja kalau gitu. Lebih cepat lebih baik.” Katanya sambil tersenyum tipis. Aku balas tersenyum.
“Berarti sepakat: jam 10 kamu jemput aku, ya?” tanyaku memastikan. “Jangan telah, lho!”
“Iya, iya.” Rinka tersenyum lalu mengacak rambutku pelan. “Kamu juga jangan telat bangun dan siap-siap. Jangan-jangan nanti aku datang kamu belum mandi lagi.”
“Jangan samakan aku denganmu!!!”
Tiba-tiba aja terdnegar teriakan,
“RINKA DIJEMPUT!!!”
Kebiasaan kami. Teriak-teriak gitu kalau ada yang dijemput. Biasanya sih beberapa anak yang hafal wajah orangtua teman-teman yang lain yang teriak gitu.
“Ah, aku dijemput.” Gumam Rinka sambil duduk dari posisinya lalu mengambil tasnya yang ada di belakangku.
Aku beranjak dari posisiku jadi duduk.
“Sampai besok.” Rinak berdiri. Dia menjiwit pipiku sebelum pergi keluar kelas.
“Dagh!” aku melambai kecil.
“Bye!” sahut Rinka saat di ambang pintu kelas, tepat sebelum bayangannya menghilnag di balik tembok.
Sepeninggal Rinka aku kembali berbaring tapi nggak sampai satu menit aku kembali duduk dan mengambil air minumku dan meneguknya.
Papa masih lama ya jempu aku?
Berhubung yang lian masih tiduran dan ada yang sudah dijemput—beberapa. Akhirnya kuputuskan untuk berjalan-jalan sebentar sambil menunggu Papa. Ternyata Dewi lagi tidur di samping Hana. Syukurlah, aku nggak perlu terlalu cemas kalau sampai dia menyikas Hana kayak tadi lagi. Nggak tega aku lihatnya. Wlaua sudah sering sih melihatnya…
Aku berdiri dari dudukku dan keluar kelas. Kepalaku menoleh ke kanan-kiri mencari sesuatu untuk dilakukan. Tapi ternyata nggak ada yang bisa kulakukan. Bosannya~
Kulangkahkan kakiku menuju gerbang sekolah. Tahu aja mungkin aku sudah dijemput. Tapi ternyata memang belum. Aku nggak melihat papa atau siapapun menjemputku.
Kuputuskan untuk kembali ke kelas. Eh, atau per.pus aja, ya? Mungkin ada buku yang bagus…
Kuseret kakiku ke arah perpstakaan. Tapi langkahku langsung terhenti saat melihat sesosok anak cewek—yang baru akrab hari ini aku akrab dengannya—ada di ruang administrasi. Kuputuskan untuk menghampirinya.
Dari wajah cewek itu terlihat sedikit kecemasan. Dia sedang membicarakan sesuatu dengan seorang guru administrasi yang duduk di balik meja admin. Aku dapat mendengar perbincangan mereka, tapi nggak terlalu jelas karena jarakku agak jauh. Akhirnya setelah mendekat pembicaraan semakin jelas.
“Lha terus gimana, Bu!?” seru cewek itu.
“Lha gimana? Kamu jalan atau numpang temanmu yang deket aja.” Balas guru itu sambil melirik aku, yang baru saja masuk, dari balik komputernya. “Ada apa, Kinna?”
Cewek itu, Lisa, ikut menoleh padaku saat namaku disebut.
“Enggak papa, Bu. Aku lagi nggak ada kegiatan. Jalan-jalan aja.” Jawabku sambil tersenyum tipis.
“Belum dijemput?” Tanya Bu Yumna yang tiba-tiba aja muncul di belakang Lisa.
“Iya.” Aku mengangguk.
“Lisa?” Tanya Bu Yumna. “Kamu juga belum dijemput?”
“Enggak, Bu.” Lisa menggeleng. “Orangtuaku enggak ada yang bisa jemput aku. Aku lupa turun duluan tadi.”
“Oh. Mau sama Bu Guru gimana? Tapi nanti di turunin di pasar.”
“Jauh, Bu!! Bu Yumna kejam menyuruh aku jalan sejauh itu.” Lisa mewek. Hihihi, imut juga. Baru kali ini aku lihat dari dekat expresinya yang kayak gini. Eh, bahkan mungkin baru pertama kali soalnya aku jarang memperhatikannya.
“Mau sama aku?” tawarku pada Lisa.
Lisa menatapku nggak percaya. Kayak apa aja…
“Enggak usah. Ngerepotin nanti.” Tolak Lisa halus. Tapi dari tatapan matanya aku tahu dia sebenarnya ingin.
“Nggak papa. Kamu sendiri nggak nyaman kan pakai baju kayak gitu?” aku menunjuk bajunya, tepatnya jaketnya. Ah, jadi muncul lagi perasaan bersalah…
“Please, ya?” aku memasang tampang seimut mungkin. Memperlihatkan tatapan puppy eyes-ku yang sering berhasil pada banyak orang. “Kinna mau tahu rumahnya Lisa. Na?”
Yah, walau alsan utamaku bukan itu, sih. Aku mau punya teman untuk diajak ngobrol sambil menunggu jemputan. Habis, biasanya aku yang terakhir di jemput dan selalu sendirian bingung cari kegiatan.
Kayaknya Lisa terpengaruh sama tatapanku. Soalnya dia tersenyum lihat aku. Yes! >w<
Lancarkan serangan berikutnya. Nyahahaha!
Aku semakin mendekat pada Lisa. Aku mendongak, tentunya. Mengatupkan kedua tanganku di depan dada dan tetap mempertahankan expresiku. “Please… rumah kita nggak jauh, kan?”
Nggak jauh? Eh, jauh nggak sih? Aku sendiri nggak tahu. Setahuku enggak. Yang jauh tuh rumahnya Bunga sama Ozha… di luar kota itu.
Dia mendorong bahuku agak pelan, tapi tetap saja kencang bagiku, agar jaraknya dan aku nggak terlalu dekat. “Oke,” jawabnya akhirnya dengan mengangguk.
Aku tersenyum lebar. Kupeluk Lisa sekilas lalu kembali ke gerbang depan untuk mengecek apakah aku sudah dijemput atau belum. Masih belum TT__TT
Aku akhirnya hanya melihat-lihat sekeliling gerbang depan sekolah. Ada beberapa murid yang lalu lalang ,menghampiri teman atau orangtuanya. Segerombol anak cowok duduk di dekat gerbang sambil ngobrol. Dan mataku menangkap satu sosok cowok di antaranya. Cowok teman SD-ku, yang sejak masuk SMP ini sempat beberapa kali mencuri perhatianku.
Aku terdiam di tempat, nggak bergeming sama sekali. Tapi aku tetap berusaha tidak terlihat mencolok saat melihatnya. Hanya melihat dari jarak yang cukup jauh, dan bersembunyi di balik pohon. Nafasku tertahan waktu lihat dia tertawa lepas, entah karena apa—mungkin karena bercanda dengan teman-temannya. Dan parahnya aku berdebar waktu mengamati wajahnya. Apalagi dengan beberapa kejadian yang dulu sempat melibatkan aku dan dia…
Padahal dulu aku nggak begitu memperhatikannya, nggak peduli malah. Tapi sejak masuk SMP, waktu tiba-tiba aja dia lewat di depanku waktu ke kantin aku langsung terpaku. Gaya rambutnya beda dari waktu SD, dan itu membuatku menjadi sadar kerennya dia.
Owh! Owh! Aku ngak mau fall in love dulu! Jangan! Aku lagi nggak mau… Alihkan matamu, Kinna! Pergi dari sana dan…
“Lihatin siapa?”
“Hah?” Aku medongak dengan perasaaan kaget. Tiba-tiba aja Lisa muncul waktu aku membalikan badanku tadi.
“Kelihatannya serius banget.”
“Enggak papa.” Aku berjalan masuk ke dalam gedung sekolah. Lisa berjalan di belakangku.
Tapi aku langsung berhenti waktu Hana lewat di sampingku.
“Pulang?” tanyaku. Badanku kuputar menghadapnya tanpa mengambil langkah untuk mendekatinya.
“Iya.” Sahut Hana sembari mengenakan sepatunya. “Duluan, ya!” salamnya.
Aku melambaikan tanganku kecil sambil memasang senyum manis di wajahku. Hana keluar gerbang sekolah. Sempat dia hampir bertabrakan dengan Lisa yang ternyata nggak jauh di belakangku. Aku tersenyum tipis melihatnya sebelum kembali berjalan.
Tapi tiba-tiba saja aku kebelet pipis.
“Temanin ke kamar mandi, ya?” aku menoleh ke Lisa yang sedang mengeluarkan headset dari tas yang dibawanya.
“Ok.” Sahut Lisa. Aku tersenyum berterimakasih. Segera kutarik tangan Lisa dan berlari kecil ke kamar mandi. Sesampinya di kamar mandi aku mendekati wastafel dan memasuh wajahku. Lisa menyandarkan punggungnya ke dinding kamar mandi. Tangannya sibuk mengutak-atik mp3 dan kepalanya mengangguk-angguk mengikuti irama musik. Tasnya dibiarkan terbuka.
Keadaan sepi waktu aku cuci tangan di watafel. Hanya suara air yang terdengar. Aku juga nggak mau mengganggu Lisa dengerin musik.
“Ayo balik!” ajakku setelah mengeringkan tangan.
Lisa hanya mengangguk tanpa menatapku. Tapi kurasa dia nggak dengar, deh… anggukannya nggak beda dengan anggukan dengerin lagu.
Akhirnya kuputuskan untuk menusuk perutnya pelan. Lisa refleks menoleh ke arahku.
“Ayo balik!” ajakku lagi sambil menujuk keluar. Lisa mengangguk lalu keluar dari kamar mandi duluan. Aku mengekor di belakangnya. Kami berjalan ke kelas beriringan. Sesampainya di dalam kelas Lisa langsung duduk di lantai. Aku memilih mendekati Dewi yang masih teler.
Wah, wah… sudah membuat pulau ternyata. Dia agak jorok juga, ya.
Daripada menganggu akhirnya aku memilih mencari Ozha. Tapi saat kutanyakan pada yang lain, ternyata Ozha sudah pulang bareng Bunga tadi. Pada akhirnya kuputuskan untuk mengobrol dengan Melati dan yang lain.
Keadaan kelas semakin lama semakin sepi. Satu per satu semua mulai pulang, meninggalkan beberapa anak lagi di kelas—termasuk aku, Lisa dan Dewi yang masih tidur.
Haaahh… nyebelin!!! Berapa lama lagi aku harus menunggu!?
Tuhan…, datangkanlah Papa… TT.TT
Tiba-tiba…
“KINNA!!! DIJEMPUT!!!”
YES!
“Lis,” aku mendekati Lisa dengan semangat. “ayo!” seruku sambil menarik tangannya. Aku mengajak dia berlari sampai ke gerbang sekolah. Benar, mobil Papa ada di seberang jalan.^^
“Let’s go!” seruku setelah memakai sepatuku. Lisa juga sudah memakai sepatunya, tapi kali ini dia melepaskan headsetnya. Setelah itu aku segera berlari ke mobil. Tapi tepat sebelum kakiku melewati batas jalan dengan trotoar, Lisa menarikku.
TIIIIINNNN
Hwaaaaaaaa!!! Nyaris! Nyaris! >.<
Hampir aja aku tertabrak mobil… TT_TT
Aku menoleh ke Lisa. “Ehehe. Thank you,”
Lisa balas tersenyum tipis. Tangannya lepas dari perut—pinggang—ku dan beralih memegangi pergelanganku. Dia menoleh ke kanan-kiri sebelum akhirnya menarikku menyeberangi jalan. Sampai di seberang Lisa melepas tangannya dan aku berlari ke mobil.
“Hati-hati!” ucap Papa dari balik kaca mobil yang diturunkan. Aku nyengir. Lisa berdiri nggak jauh dariku, tapi tetap aja diam di tempat. Dia Cuma menatapku.
“Oh ya, Pa,”
“Hmm?”
“Teman Kinna numpang, ya?” pintaku sambil menunjuk Lisa dengan telunjukku.
Papa melongokan kepalanya, melihat Lisa. Lisa tersenyum tipis sambil mengangguk kecil ke Papa. Papa balas tersenyum.
“Rumahnya di mana, Dik?” tanya Papa. Lisa berjalan mendekat dan berhenti di sampingku.
“Di jalan XXX,” jawab Lisa sopan.
“Oh situ. Bareng sama Pakdhe(bapak gedhe—paman) aja gimana?”
Lisa mengangguk. “Makasih,”
Aku tersenyum. Kutarik Lisa ke dalam mobil setelah tanganku membuka pintu belakang mobil. Aku duduk di samping Lisa.
BLAM
Pintu mobil ditutup. Mesin dinyalakan. Aku menoleh pada Lisa dengan senyum lebar. Lisa balas tersenyum dan mengelus kepalaku lembut.
“Let’s go!”
/p
February 10th, 2012 at 6:53 pm
Lagi lagi !
Ternyata Yuri gak kalah ya sama Yaoi !
February 10th, 2012 at 10:55 pm
hohohoho…jelas dong ^^
smoga si cherry cptan update ya…aq jg mw baca lnjutanx hehehe