Author : Arcclay
~Yuli Pov~
“Kok kamu senyum-senyum mulu dari tadi?” tanya mbak Yeyen saat memergokiku sedang senyum-senyum gaje.
“Lagi senang mbak,” jawabku sambil mendekap nampan di depan dadaku.
“Senang kenapa?” tanya mbak Yeyen lagi.
“Ya senang karena sudah dapat kerjaan tetap mbak hehehe…” aku menundukkan kepalaku dan melihat ujung kakiku yang terbungkus sepatu pantofel tanpa hak (??).
“Hehehehe…lucu ya kamu itu. Jadi pembantu aja suka,” kata mbak Yeyen.
“Pembantu?” tanyaku bingung.
“Iya. Kerja kayak gini kan sama aja kerja kayak pembantu. Tapi pembantu elit,” jawab mbak Yeyen sambil menuang air panas ke dalam tujuh gelas kosong.
“Bener tuh hehehe…” sahut pak Kosim.
Sedangkan aku hanya mangguk-mangguk mengerti.
“Ini diantar ke ruang tiga ya,” suruh mbak Yeyen sambil menata gelas-gelas yang berisi kopi itu ke dalam nampan yang aku bawa.
Aku langsung berjalan menuju ruang tiga yang berseberangan dengan tempat para cleaning service. Jadi gini, kantor tempatku bekerja ini berbentuk Y. Dari lobby ada jalan ke kanan dan ke kiri. Kalau kekiri ada ruang untuk para cleaning service yang di pakai untuk menyimpan barang-barang seperti tas, helm dan barang bawaan lainnya. Kalau terus lagi ada dapur, ada gudang untuk peralatan kebersihan dan ada toilet. Sedangkan jalan yang kanan, ada ruang satu untuk rapat, ada ruang dua untuk para sales, ada ruang tiga untuk para staf admin (?), ada toilet dan ada ruangan untuk pimpinan. Di samping kantor ini ada sebuah bangunan lagi yang digunakan untuk menyimpan barang-barang. Sedangkan truk-truk dan sepeda motor yang di gunakan untuk mengirim barang-barang ke customer berjejer rapi di depan bangunan itu. Lalu di belakang kantor yang kosong di jadikan tempat parkir para karyawan. Aku tau banyak karena di beritahu mbak Yeyen dan pak Kosim.
Doookk…doookk…
“Permisi,” kataku sambil membuka pintu ruang dua.
Aku sempat terpaku saat melihat semua penghuni ruang tiga menatap ke arahku.
“A…anu saya mau mengantar minuman,” kataku gugup.
Tiba-tiba tujuh orang yang tadi menatapku kini kembali sibuk dengan tugasnya masing-masing. Dalam sekejap aku di cuekin. Perlahan-lahan aku melangkahkan kakiku memasuki ruangan itu. Kuletakkan gelas berisi kopi itu ke meja mereka.
Di ruangan ini ada tujuh meja. Tiga di sisi kiri dan tiga di sisi kanan, sedangkan satu meja sisanya terletak di seberang pintu masuk.
“Namamu siapa? Kok aku baru melihatmu hari ini?” tanya seorang pria muda yang baru saja meminum kopinya.
“Yuli pak. Saya memang baru di sini,” jawabku sambil menampilkan senyum terbaikku.
“Apaan nih?! Kopi kok pahit banget,” dengus seorang perempuan berambut curly yang duduk berseberangan dengan pintu masuk, “nggak kamu kasih gula ya?” perempuan itu menatapku tajam.
“Masa sih bu?” tanyaku sambil mendekat ke arahnya dengan perasaan takut, “tadi yang buat kopi nya mbak Yeyen, jadi saya nggak sempat mencicipinya,” kataku lagi.
“Lain kali kalau antar minuman di cicipi dulu!!” dengus perempuan itu tanpa melihatku yang hanya bisa menunduk ketakutan, “kenapa masih di sini?! Nih ambil kopinya dan buang!!” kata perempuan itu yang langsung membuatku mendekat ke arahnya.
“Akan aku ganti dengan yang baru,” kataku sambil mengambil gelas kopinya dan meletakkannya ke atas nampanku.
“Nggak perlu,” dengus perempuan itu sambil berdiri dari kursinya, “lain kali jangan antar minuman ke ruangan ini lagi,” kata perempuan itu lagi sambil beranjak pergi meninggalkan ruangan.
Untuk beberapa saat aku hanya terpaku di tempatku berdiri.
APA-APAAN DIA ITU???? Kopi itu kan di buat dalam satu wadah besar setelah itu baru di tuang ke beberapa gelas. Gimana bisa punya dia yang pahit dan yang lainnya nggak pahit?? Aneh banget.
Ku pandangai gelas yang aku ambil dari wanita tadi. tanpa pikir panjang aku langsung meminum kopi yang masih tersisa banyak di gelas itu. Dan….sialan. Kopi nya sama sekali nggak pahit.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya seseorang yang langsung menyadarkanku bahwa aku masih di dalam ruang tiga.
“Eh i…iya bu saya nggak apa-apa,” jawabku sambil menatap seorang perempuan yang seumuran dengan perempuan judes tadi.
Ehm…sebentar. Perempuan ini yang kemarin mengajakku bicara saat aku kebingungan. Dia bukan perempuan tomboy, tapi perempuan yang datang setelah perempuan tomboy. Eehhhmm….namanya…namanya…ah aku nggak tau namanya –a.
“Udah nggak usah di pikirin! Lidia emang gitu orangnya. Judes,” kata perempuan berambut pendek itu sambil tersenyum.
Ehm…biarpun rambutnya pendek, tapi dia nggak kelihatan tomboy.
“Iya bu,” sahutku sambil tersenyum juga, “ehm…maaf, saya permisi dulu,” pamitku.
Setelah itu aku langsung menuju dapur dan menceritakan apa yang baru saja ku alami ke mbak Yeyen, pak Yoyok dan pak Kosim. Dari tanggapan mereka, aku jadi tau kalau banyak karyawan yang nggak betah kerja di sini ya gara-gara bu Lidia. Ternyata bu Lidia itu sekretaris dan orang kepercayaan bu Kiki. Aku juga baru tau kalau bu Kiki adalah pimpinan di sini. Ya ampun, aku malu banget kalau mengingat sikapku yang nggak sopan ke bu Kiki.
Obrolan kami terhenti saat pak Yoyok harus mengepel lantai kantor, dan aku yang harus mengantarkan minuman ke ruangan bu Kiki.
Aku hampir mengetuk pintu saat terdengar teriakan dari dalam ruangan bu Kiki. Sedetik kemudian pintu yang ada di depanku terbuka lebar. Bu Lidia tersentak kaget saat melihatku berdiri di depan pintu. Tapi setelah itu bu Lidia langsung pergi begitu saja meninggalkan ruangan bu Kiki. Sedangkan bu Kiki terlihat lesu sambil memijat keningnya.
“Per…permisi bu,” kataku ragu-ragu.
Bu Kiki langsung menatapku dan sedetik kemudian senyum ramahnya terukir jelas di bibirnya.
“Masuk Yul!” kata bu Kiki masih dengan senyumnya.
Akhirnya aku pun masuk dan langsung meletakkan kopi itu ke atas meja bu Kiki.
“Yul!!” panggil bu Kiki saat aku akan melangkahkan kakiku untuk meninggalkan ruangan bu Kiki.
“Iya bu?”
“Eng…tadi…tadi kamu mendengar pembicaraanku dengan Lidia?”
“Nggak kok bu. Saya cuma mendengar teriakan yang nggak jelas aja tadi.”
Bu Kiki langsung tersenyum sambil menghela nafas.
“Ehm…saya permisi dulu bu.”
“Sebentar Yul,” lagi-lagi bu Kiki menghentikan langkahku dengan panggilannya.
“Ya bu?”
“Ehm…kamu sibuk?”
“Eng…nggak sih bu?”
“Hem…bisa kamu temani aku sebentar?”
Untuk beberapa saat aku hanya terdiam bingung.
“Bisa aja sih, tapi…apa bu Kiki nggak sibuk?” tanyaku balik.
Bu Kiki tersenyum.
“Ayo duduk sini! Temenin aku ngobrol,” kata bu Kiki tanpa menjawab pertanyaanku.
Dengan patuh, aku pun mulai melangkahkan kakiku mendekati tempat duduk yang berseberangan dengan tempat duduk bu Kiki.
“Bagaimana kesanmu setelah bekerja di sini?” tanya bu Kiki setelah aku duduk.
“Enak kok bu.”
“Apa ada yang membuatmu bingung atau gimana?”
“Ehm…nggak ada kok bu. Soalnya mbak Yeyen, pak Yoyok, pak Kosim dan semua teman-teman yang lain membantu saya.”
Bu Kiki mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Apa kamu akan betah di sini?”
Aku terdiam. Bingung. Aku kan baru sehari kerja di sini, jadi aku nggak bisa menjawabnya.
“Nggak tau ya bu,” jawab lirih, “saya kan masih sehari kerja di sini”
Tiba-tiba Bu Kiki tertawa pelan, membuatku jadi mengerutkan kening.
“Pertanyaanku aneh ya?” tanya bu Kiki sambil menahan tawanya.
“Iya…eh nggak…eng…i…iya hehe…”
Kali ini bu Kiki nggak hanya tertawa pelan, tapi sudah benar-benar tertawa. Sedangkan aku hanya bisa menunduk malu.
Setelah tawa bu Kiki berhenti, kami berdua langsung terjebak dalam keheningan. Bu Kiki diam, aku juga diam.
Haaahhh….aneh rasanya duduk di ruangan bos saat kerja seperti ini. Ya biarpun bu Kiki ini baik, tapi aku tetap merasa aneh.
Ku angkat wajahku yang dari tadi tertunduk memandang meja. Aku melihat bu Kiki sedang memijat pelan keningnya. Sepertinya dia sedang banyak pikiran.
“Pusing ya bu?” tanyaku yang langsung membuat bu Kiki menghentikan pijatan di keningnya.
“Hem…ya sepertinya gitu Yul.”
Aku manggung-mangguk.
“Eh bu, bu Kiki pernah tau olah raga yang duduk seperti bertapa nggak?”
“Eng…yoga?”
“Iya olah raga yoga. Dengar-dengar sih bisa membuat seseorang itu relax dan mengurangi rasa capek berlebih,” kata ku sok tau.
“Hem…masa sih?” tanya bu Kiki, “bisa kamu praktekin?”
“Bisa bu,” jawabku pe de.
“Mau kemana?” tanya bu Kiki saat melihatku berdiri dari tempat dudukku.
“Mau praktek,” jawabku.
Aku langsung duduk bersila di lantai.
“Bu sini bu!! Kita praktekkan yoga nya.”
Bu Kiki langsung menunjuk dirinya sendiri sambil terbengong menatapku. Tapi sedetik kemudian dia tersenyum dan ikutan duduk bersila di lantai.
“Jadi?? Bagaimana???”
Aku terdiam. Berfikir. Sebenarnya aku juga nggak tau gimana olah raga yoga itu. Setahuku ya cuma duduk bersila.
“Eng…itu…eng…pejamkan mata,” kataku sambil menutup ke dua mataku.
“Terus?”
“Terus…terus ambil nafas dalam-dalam lalu hembuskan pelan-pelan,” kataku sambil memraktekkan apa yang baru saja aku katakan.
“Hem…”
“Kosongkan pikiran dan fokuskan ke hal-hal yang menyenangkan supaya pikiran lebih relax.”
“…”
“Lakukan terus berulang-ulang.”
“…”
“…”
“…”
“…”
Nggak tau kenapa suasana di ruangan ini menjadi sangat tenang. Mungkin karena aku dan bu Kiki mulai merasakan ketenangan karena olah raga mendadak ini. Aku nggak tau apa yang di pikirkan bu Kiki, tapi yang jelas aku memikirkan suasana di tempat asalku. Sawah dan suasana di sana yang tenang membuatku jadi tenang.
Setelah beberapa menit berlalu, aku mulai membuka ke dua mataku. Tapi aku langsung membeku saat mendapati wajah bu Kiki begitu dekat dengan wajahku. Nggak tau kenapa aku nggak bisa memalingkan pandanganku dari wajah bu Kiki. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat dengan jelas kecantikan bu Kiki. Wajahnya begitu bersih tanpa jerawat atau noda hitam sedikitpun. Bulu matanya yang panjang dan sangat lentik, ya biarpun itu pengaruh mascara atau penjepit bulu mata. Bibirnya yang tipis dan cantik karena polesan lipstick merahnya yang berkilau.
Untuk beberapa saat kami hanya saling berpandang-pandangan. Bu Kiki menatapku dengan pandangan yang sulit aku artikan.
“Ehm…bu…bu Kiki?”
Tiba-tiba bu Kiki memundurkan wajahnya. Dia buru-buru berdiri. Terdengar beberapa kali helaan nafas dari bibirnya.
“Ehm…Yul. Aku masih ada urusan, ehm..kamu…kamu…”
“Ah iya bu, aku…aku akan kembali ke dapur,” potongku sambil berdiri.
Aku langsung mengambil nampan yang tadi aku letakkan di atas meja.
Uuuuggghhh….bego banget sih aku. Udah tau kalau bu Kiki itu orang sibuk. Kok bisa-bisanya aku mengajaknya berolah raga yoga.
“Ehm…Yul,” panggil bu Kiki saat aku membuka pintu ruangannya.
“Ya bu?”
“Makasih ya. Berkat kamu, aku jadi lebih relax,” kata bu Kiki sambil tersenyum.
Aku yang mendengar kata-katanya langsung tersenyum lebar.
~Author Pov~
Di sebuah night club terlihatlah seseorang yang sedang meminum cairan bening yang sedikit berbusa di atasnya. Beberapa kali dia menegak minuman yang dia tuang ke gelas kecilnya. Tapi setelah beberapa kali meminum minuman keras itu lewat gelas, akhirnya orang itu langsung meminum minumannya langsung dari botolnya.
“Jangan minum banyak-banyak, nanti mabuk,” kata salah seorang yang ada di sampingnya.
“Hem…kalau aku mabuk, kamu aja yang nyetir mobilnya,” sahut orang yang sedang menikmati minumannya sambil menepuk-nepuk pelan pipi temannya itu.
Setelah itu dia meninggalkan meja bar dan bergabung dengan beberapa temannya yang sudah meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti suara bising dari sang DJ. Dia menghampiri perempuan cantik yang berambut panjang lurus dan langsung memberi perempuan itu ciuman mautnya. Tanpa ragu, perempuan itupun menyambut ciuman itu. Mereka berdua terus berciuman sambil meliuk-liukkan sedikit tubuhnya. Udara yang panas makin bertambah panas saat orang itu menjelajahi leher perempuan berambut panjang lurus itu dengan bibirnya. Tangan orang itu mulai meremas pelan bongkahan pantat perempuan itu.
“Jangan sampai Lidia lihat kelakuanmu,” bisik salah satu temannya yang langsung mengajak orang itu pergi menjauhi perempuan itu.
Perempuan yang di tinggalkan itu terlihat kecewa saat partnernya pergi meninggalnya. Sedangkan orang yang berambut pendek itu terus menggelandang temannya yang hampir mabuk itu sampai masuk ke dalam mobilnya. Tanpa banyak pikir lagi, orang berambut pendek itu langsung melajukan mobilnya meninggalkan tempatnya berdugem.
Mobil hitam itu terus membelah pekatnya malam. Sesekali orang itu memperhatikan temannya yang bersandar di tempat duduknya.
“Kamu itu mikirin apa lagi sih Ky?” tanya orang berambut pendek itu.
“…”
“…”
“…”
Orang setengah mabuk itu hanya diam sambil memandang jalanan yang sepi. Matanya terlihat sayu dan wajahnya terlihat memerah karena pengaruh alcohol. Temannya yang melihat tingkahnya itu cuma menghela nafas panjang. Dalam hitungan detik, keheningan langsung menyelimuti mereka berdua. Kini mobil yang mereka tumpangi melewati rumah yang padat penduduk. Di sana banyak warung, kios-kios dan mini market yang buka dua puluh empat jam. Biasanya warung itu di buat nongkrong orang-orang yang berdompet tipis. Dan tak jarang ada tindak criminal di sana. Masyarakat yang tau ada hal itu cuma bisa diam tanpa berani mengadu pada pihak berwajib. Mereka memilih diam daripada harus berhadapan dengan para berandalan itu.
Perlahan-lahan mobil yang mereka tumpangi melewati kawasan itu. Qian, nama orang yang berambut pendek yang sedang mengemudikan mobilnya itu terpaksa harus mengurangi laju mobilnya karena banyaknya orang mabuk berseliweran di jalan itu. Saat Qian menggerutu nggak jelas tentang longgarnya hukum yang ada di tanah airnya itu, tiba-tiba saja temannya melompat dan keluar dari mobil. Qian yang kaget langsung menghentikan mobilnya di tengah jalan. Untungnya jalanan saat itu sepi, jadi tindakannya tadi nggak mengagetkan pengguna jalan yang lain.
“RIZKY!!” teriak Qian saat melihat temannya berlari mendekati kerumunan cowok-cowok mabuk.
Akhirnya Qian langsung turun dari mobilnya dan mengikuti Rizky. Mata Qian terbelalak saat melihat Rizky memukul salah satu pria yang sedang berkerumun. Karena kenekatan Rizky tadi, kini sekelompok pria yang sudah mabuk itu mulai mengelilingi Rizky.
“SIAPA KAMU HAH??!!” bentak salah satu pria itu sambil mendorong keras tubuh Rizky, “MAU JADIIIIIII….SOK PAHLAWAN???!!!!” kali ini pria itu mulai mencengkeram kerah baju Rizky.
Tepat saat Rizky mulai terdesak, Qian melihat ada seorang perempuan yang sedang terduduk sambil menangis di sisi jalan. Saat Qian mau menghampiri perempuan itu, terdengar gelak tawa yang cukup keras. Qian kembali mematung saat melihat beberapa pria mulai mengerumuni Rizky. Ternyata saat mata Qian terfokus pada perempuan yang sedang menangis itu, topi yang di pakai Rizky terjatuh dan membuat rambut panjangnya terurai.
“Gila…cewek bro!! Cantik banget,” kata pria yang berbadan kurus sambil mencolek-colek dagu Rizky.
Perempuan yang menangis tadi mulai mengangkat wajahnya dan mulai melihat apa yang sedang terjadi. Tapi matanya langsung melebar saat melihat sosok perempuan yang kini berada dalam kepungan pria-pria yang tadi mengepungnya.
“Bu Kiki,” desisnya tak percaya.
Ya benar…perempuan yang di panggil Rizky oleh Qian adalah Kiki, bos di kantornya yang baru.
“Lebih cantik dari cewek itu, bro.”
“BRENGSEK!!” umpat Kiki sambil menepis kasar tangan seorang pria yang mulai menggerayangi tubuhnya.
“O…o….o….o….kamu ke sini mau setor tubuhmu ini ya sayang?!” kali ini pria bertato di lengannya mencoba mencium pipi Kiki, tapi Kiki langsung meninju wajah pria itu sampai pria itu terjengkal beberapa langkah ke belakang.
Sebenarnya Qian ingin menolang dan membantu Kiki, tapi setelah melihat situasinya, Qian lebih memilih kembali ke mobilnya dan langsung pergi dari tempat itu.
Setelah kepergian Qian, Kiki yang mulai mendapat pelecehan, akhirnya mengamuk. Dia mencoba memukul dan menendang dengan kesadarannya yang hanya separuh. Yuli yang melihat bos’nya terdesak hanya bisa menangis. Dia ingin menolong Kiki, tapi rasa takut yang dia rasakan membuatnya hanya bisa terdiam.
“AAAAAAKKKKHHHH….LEPAS!!!! DASAR BRENGSEK KALIAN!!!” Kiki mendorong seorang pria yang sudah mulai berani mencium lehernya.
“Ck…kamu ini benar-benar liar ya…” desis pria berambut panjang yang diikat kebelakang, “tapi itu yang membuatku bertambah nafsu.”
Tiba-tiba pria tadi menyeret Kiki ke salah satu kios yang masih kosong. Setelah Kiki dan pria tadi nggak nampak lagi, kini mata para pria yang masih ada di sana beralih menatap Yuli yang masih menangis. Merasa ada ‘barang’ menganggur, merekapun mulai mendekati Yuli yang kini nampak ketakutan. Tepat pada saat Yuli akan diseret, terdengar suara deru mobil mendekat kearah mereka.
“HOI!!!!” teriak salah satu pengendara mobil itu.
Sebelum para berusuh itu mencerna apa yang terjadi, salah seorang pria pengendara mobil itu langsung mendekat dan memukul salah satu berandalan itu. Akhirnya perkelahian antara para pengandara mobil dengan para berandalan itu tak terelakkan lagi. Suasana sangat ricuh saat itu. Para penjaga warung dan beberapa warga yang sedang nongkrong pun memilih pergi saat perkelahian itu terjadi. Sedangkan Yuli yang ketakutan hanya terduduk di sisi jalan sambil terus menangis. Baru sekali ini dia terjebak dalam perkelahian seperti itu. Kalau saja dia bisa memutar waktu, dia nggak akan berkeliaran malam-malam untuk mencari pembalut.
Setelah beberapa menit perkelahian itu berlangsung, para berandalan itu berhamburan pergi karena kalah jumlah. Biarpun sebagian pengendara mobil itu adalah perempuan, tapi mereka bukan perempuan yang akan lari ketakutan sambil berteriak ‘ampun-ampun’ jika dipukul. Mereka adalah perempuan tomboy yang suka unjuk gigi. Berkelahi bukanlah sesuatu yang menakutkan bagi mereka.
Salah satu perempuan tomboy yang ada di dekat Yuli langsung menghampiri Yuli. Perempuan itu adalah Qian yang tadi sempat pergi untuk mencari bantuan pada teman-temannya.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Qian ke Yuli.
Perempuan itu mengulurkan tangan dan membantu Yuli berdiri.
“I…iya nggak apa-apa,” jawab Yuli yang masih kelihatan syock.
“HAI!! MANA RIZKY??” tiba-tiba seorang pria menghampiri di Yuli dan mencengkeram bahu Yuli, membuat Yuli kembali didera ketakutan.
“Jangan bikin dia takut, Zi!!” Qian langsung melepas cengkeraman pria itu.
Yuli yang masih syock hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Merasa nggak mendapat jawaban dari lawan bicaranya, pria yang mempunyai rambut bergelombang itu langsung meninggalkan Yuli lalu berteriak memanggil-manggil Kiki dengan sebutan Rizky. Pria yang umurnya sekitar 30an itu langsung mengecek ke beberapa kios yang masih kosong.
“KY!!!!” akhirnya pria itu melihat Kiki keluar dari salah satu kios dengan sempoyongan, “kamu nggak apa-apa??” tanya pria itu setelah menghampiri Kiki.
Pria itu berusaha mengecek keadaan Kiki dengan memegang bahu Kiki, tapi Kiki langsung menepis tangan pria itu.
“Mana dia??” tanya Kiki sambil melihat sekitarnya yang ramai dengan orang-orang yang berseliweran, “mana dia???” tanya Kiki lagi.
“Siapa??” pria itu balik bertanya.
Kiki nggak menjawab. Dia sudah tau keberadaan orang yang dia cari. Kiki langsung berlari mendekat kearah cewek itu dan langsung memeluknya.
“Sorry aku telat,” desisnya.
Yuli yang kaget dengan sikap Kiki hanya bisa terdiam.
“Kamu nggak apa-apa??” tanya Kiki, “kamu nggak apa-apa kan…Angel??”
Yuli langsung mengkerutkan keningnya.
Perlahan-lahan Kiki melepaskan pelukannya. Di tatapnya Yuli yang masih kebingungan karena sikapnya barusan.
“Angel…” desis Kiki sambil mengusap lembut pipi Yuli.
“Angel??” tanya Yuli yang masih dilanda kebingungan, “bu saya nggak apa-apa. Tapi saya Yuli bu. Bukan An…” kata-kata Yuli terputus begitu saja saat Kiki mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya.
Yuli yang menerima ciuman itu hanya bisa mematung dan membulatkan matanya. Sedangkan teman-teman Kiki yang menyaksikan kejadian itu langsung heboh dengan siulan dan sorak-sorai. Mereka sama sekali nggak kaget dengan pemandangan tak lazim itu. Seolah-olah kelakuan Kiki itu adalah sesuatu yang wajar. Tapi berbeda halnya dengan pria yang mempunyai rambut bergelombang tadi. Pria itu hanya diam menahan geram saat melihat Kiki mencium Yuli. Akhirnya pria itu memilih pergi dari sana dan berniat kembali ke mobilnya. Tapi pada saat dia berjalan melewati kios tempat munculnya Kiki tadi, dia mendengar suara rintihan. Akhirnya dia menghentikan langkahnya dan memutuskan untuk melihat ke dalam kios itu. Mata pria itu memicing saat melihat seorang pria sedang berguling-guling di atas lantai dengan memegang kemaluannya. Tanpa pikir panjang, pria itu langsung mendekati pria itu dan langsung menendangnya beberapa kali.
/pp style=”text-align:left;”p style=”text-align:left;”
January 31st, 2012 at 9:09 am
[...] yang belum mendapatkan #resolusi12! 1. Yetik Afriana 2. Tito 3. Ca Ya 4. Arcclay 5. Broom 6. Yang lain silakan [...]