Category Archives: About Love and Friendship

About Love and Friendship 8

Author : Arcclay

~Rey Pov~

Rumah ternyata begitu sepi kalau nggak ada Nana yang cerewet dan selalu bikin heboh. Aku merasa tenang di rumah kalau sepi di sini. Tapi keadaan Kakek gimana ya? Kok dari tadi nggak ada kabar sama sekali. Masa mereka belum sampai?

 

Aku melihat jam dinding yang ada di kamarku yang sudah menunjukkan jam setengah 8 malam. Aku mengambil hp ku yang ada di dekat bantal dan mulai menulis sms untuk Nana.

    

    To: Nana

Dah nympe lum? Kakek gmn?

 

SEND

Continue reading


About Love and Friendship 7

Author : arcclay

~Rey Pov~

Aku melihat layar laptopku yang menyuguhkan adegan syur cowok dan cowok. Akhir-akhir ini aku jadi sering liat \”adult\” gay, tapi nggak tau kenapa aku sama sekali nggak tertarik. Padahal kalau berhadapan dengan Kevin aku jadi ingin melahapnya hidup-hidup. Rasanya aku jadi tergila-gila sama dia. Cuma sama Kevin aku bisa jadi aneh kayak gini. Aku sudah coba menatap dan memeluk Andre tapi nggak ada apa-apa denganku tuh. Beda kalau aku melakukannya pada Kevin. Waktu aku menciumnya, aku jadi ingin lebih dari sekedar itu. Weeeeewwww…

 

Aduh, apa aku ini ‘sakit parah’ ya?

Continue reading


About Love and Friendship 6

Author : Arcclay

~Rey Pov~

“Ya udah kita makan dulu saja,” kata Andre, “lagian ngapain sih daritadi nangis nggak berhenti-berhenti gitu?” Andre menatap Kevin yang sibuk sama segudang tissue di tangannya.

“Gara-gara denger ceritamu tuh,” dengus Kevin dengan muka cemberut sedangkan Andre malah terkekeh.

 

    Sebenarnya aku juga baru tau kalau Kevin secengeng ini. Daritadi aku menahan tawaku karena melihat wajah sembab Kevin. Bisa-bisanya dia nangis kayak gitu.

 

Akhirnya Andre mendorongku dan Kevin sampai ke meja makan. Setelah kami selesai makan, kami langsung masuk ke kamar Andre yang juga ada di lantai dua. Kamarnya luas, mungkin separuh dari rumahku itu sama dengan luas kamarnya. Terlihat TV, Big Band, computer dan beberapa perabot elektronik lainnya yang menghiasi setiap sudut kamar.

Continue reading


About Love and Friendship 5

Author : Arcclay

~Kevin Pov~

Aku, Rey dan Andre berlari-lari kecil melewati lorong yang sudah mulai sepi. Pagi ini aku terlambat bangun, akhirnya kami bertiga jadi terlambat ke sekolah.

 

Saat berlari melewati kantor kepala sekolah, tiba-tiba saja ada seseorang yang melintas didepanku.

 

BRRRUUUKKK…

 

“Aduh,” rintihku ketika aku terjatuh setelah menabraknya.

“Sorry, kamu nggak apa-apa?” sebuah suara terdengar panic. Dia mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.

 

Aku terpana sewaktu melihat wajahnya.

 

Ya Tuhan dia cakep banget.

 

Tatapan matanya tajam lebih tajam dari Andre, rahangnya kokoh menghiasi wajahnya, bibirnya nggak bisa di bilang tipis tapi nggak bisa di bilang tebal juga tapi bisa di bilang sexy, kulitnya putih bersih dan badannya tinggi tegap.

 

“Hai kamu nggak apa-apa?” tanya cowok itu sambil mengibaskan tangannya di depan mukaku.

“A..aku nggak apa-apa. Sorry aku buru-buru jadi nggak liat,” kataku gugup.

“Oh bagus deh,” desisnya sambil tersenyum manis ke arahku.

 

Lagi-lagi aku tertegun melihatnya. Tapi aku langsung tersadar lagi.

 

“Aku duluan,” kataku sambil berlari meninggalkan cowok cakep itu.

 

Nggak ada waktu untuk mengagumi ketampanan cowok di waktu hampir telat masuk ke kelas. Apalagi jam pertama yang mengajar Pak Jati yang terkenal ‘angker’. Rey dan Andre sudah nggak terlihat lagi, rasanya mereka udah sampai di kelas lebih dulu. Akhirnya aku sampai juga di depan kelasku. Terlihat anak-anak masih terlihat bergerombol disana-sini. Pak Jati juga belum kelihatan batang hidungnya. Aku langsung masuk kelas dan duduk dibangku ku, sedangkan Andre sudah terlihat duduk manis di bangkunya bersama Rey di sampingnya. Aku kira Rey akan duduk bersamaku, ternyata nggak.

Continue reading


About Love and Friendship 4

Author : Arcclay

~Rey Pov~

“…”

“Re..”

“Reey..”

“REEEYYYYY!!!!”

“Ap..apa?” tanyaku kaget mendengar Mama berteriak tepat di telingaku. Hampir aja sendok yang aku pegang jatuh.

“Kalau makan jangan ngelamun sayang, nggak baik,” kata Mama sambil memperhatikan wajahku.

“Iya,” kataku pelan.

 

Aku mulai menyendok nasi yang ada di depanku lalu memasukkannya ke mulutku.

 

Continue reading